Musyawarah Nasional Mentoring Islam dan Puskomdays FSLDKN

Takbir menggema di Aula Universitas Islam Bandung (UNISBA). Sabtu pagi, 19 Juli 2008 ratusan mahasiswa dari perwakilan berbagai Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN) menghadiri Musyawarah Nasional Mentoring Islam dan PUSKOMDAYS FSLDKN dengan tema “Revitalisasi Peran Pembinaan Keislaman Kampus sebagai Pengokoh Nurani Bangsa”. Acara tersebut terselenggara atas kerjasama beberapa elemen lembaga yang peduli akan degradasi moral bangsa saat ini. Lembaga-lembaga yang dimaksud diantaranya Yayasan Multy education Care (MeC), Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN), Forum Mentoring Bandung (FMB), serta BOM-PAI (Badan Operasional Mentoring Pendidikan Agama Islam) UNISBA bekerjasama dengan Panitia Setengah Abad UNISBA. Agus Almuhajir (penyiar Radio MQ FM) bertindak sebagai MC pada acara tersebut, menuntun para peserta mengikuti setiap rangakaian acara yang telah dipersiapkan oleh panitia. Diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Fahri, perwakilan mahasiswa dari Unisba, menambah khusyuk suasana pagi yang syahdu. Untuk membangkitkan semangat para pemuda, tim nasyid Generasi Rabbani memimpin para peserta musyawarah untuk menyenyikan lagu Indonesia Raya. Baca entri selengkapnya »

Agar Persahabatan Terjalin Indah

Setiap kita tentunya punya sahabat. Beragam kesan dan makna menghiasi lembaran ceritanya. Defenisi sahabat biasanya selalu tertuju pada orang-orang yang kita rutin dan paling sering berinteraksi dengan mereka. Tanpa kita sadari sesungguhnya mereka pun turut mewarnai kehidupan kita. Bahkan, sahabat merupakan bagian yang melekat erat dari apa yang menjadi faktor pembentuk karakter kita yang khas. Kita adalah apa yang menjadi kebiasaan diri kita. Dan pastinya, kebiasan perilaku yang terjalin di dalam interaksi persahabatan ini lambat laun juga akan mempengaruhi karakter yang akan terbina. Baca entri selengkapnya »

Membangun Konsep Diri

Saturday, 02 April 2011 09:18

Sejatinya seorang muslim ibarat pohon yang berakar kuat menghujam bumi, batangnya kokoh, dahannya menjulang ke langit, dan buahnya banyak serta berkualitas baik. Ketiganya saling terkait. Akar yang kuat, menopang batang yang kokoh sehingga dahannya bisa panjang dan menjulang kemudian ketika berbuah pohonnya tetap kokoh, tidak roboh meskipun digantungi buah yang banyak. Buahnya pun manis-manis, berkualitas baik. Inilah gambaran muslim yang sukses, ketika dia menghasilkan buah yang berkualitas baik, dalam jumlah yang banyak pula. Dalam bahasa rasulullah Muhammad SAW disebut sebagai orang yang terbaik, yaitu yang paling bermanfaat bagi orang lain. Baca entri selengkapnya »

Sudahkah Engkau Ikhlas Bekerja, Anakku?

dakwatuna.com - Wushhh……

KRL Ekonomi berlalu melewati. Kibaran rambutnya yang lebat masih terlihat. Lembayung senja mulai menyembunyikan diri di atas cakrawala. Pertanda waktu Maghrib akan terlewati sebentar lagi. Burung-burung pun sudah sejak sore tadi kembali ke sarangnya. Banyak orang berlalu lalang pulang dari kewajiban mereka berusaha bekerja. Merealisasikan salah satu  ajaran Islam yang universal. Agar memiliki kesadaran untuk memiliki sikap iffah pada diri setiap insan. Baca entri selengkapnya »

Sang Murabbi, Umar Tilmisani

(1322-1406 H – 1904-1985)

dakwatuna.com - Beliau adalah Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani. Diangkat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya Mursyid ke dua, Ustadz Hasan al-Hudhaibi pada bulan November 1973. Baca entri selengkapnya »

Jangan Buru-Buru Memvonis

dakwatuna.com – Ada sebuah kisah, kejadiannya di sebuah Sekolah Menengah. Seorang guru baru datang untuk mengajar di sebuah Sekolah Menengah. Ada maksud baik dari sang guru, yaitu, sedikit demi sedikit, ia ingin mengenal muridnya satu persatu. Bahkan kalau perlu mengenal lingkungan dekat setiap murid. Baca entri selengkapnya »

Tugas-Tugas Kerasulan

WAZHIIFAH AR-RASUUL

Tugas-Tugas Kerasulan)

Sinopsis

Tugas rasul dapat dibagi menjadi dua, yaitu menyampaikan risalah dan menegakkan diinullah. Kedua tugas ini adalah inti sari dari perintah Allah SWT dan amalan dakwah Nabi Muhammad SAW. Risalatud dakwah yang dibawa oleh Nabi adalah memperkenalkan masyarakat Jahiliyah kepada pencipta-Nya. Hal ini tidaklah begitu sukar karena setiap manusia mempunyai fitrah untuk menerima khaliq. Setelah memperkenalkan Islam, mereka berubah menjadi muslim. Sebagai muslim, mereka perlu mengetahui bagaimana cara beribadah dan mengikuti Islam secara benar. Tugas rasul di antaranya adalah menjelaskan bagaimana cara pengabdian kepada Allah, dan menjelaskan Islam sebagai panduan hidup. Usaha menyampaikan risalah secara berkesan, adalah dengan melaksanakan tarbiyah Islamiyah yang menekankan kepada doktrin dan nasihat.

Baca entri selengkapnya »

Manfaatkan Liburan Anda dengan Hal-Hal yang bermanfaat

“libur t’lah tiba.. hore3x…”

NYANYIAN yang dikumandangkan penyanyi cilik Tasya ini agaknya sangat tepat pada bulan Juni-Juli ini, saat anak sekolah mulai libur. Nyanyian ini juga sangat mewakili perasaan anak-anak ketika menyambut liburan. Hati mereka sangat senang dan yang terbayang adalah jalan-jalan. Sementara bagi orang tua tidak saja rasa senang, tetapi juga rasa pusing karena liburan berarti ada biaya ekstra yang harus keluar. Buat anak-anak liburan berarti jalan-jalan, bisa ke luar kota, luar negeri atau ke mal.

Baca entri selengkapnya »

Makna Kemerdekaan, Sebuah Inspirasi Untuk Kaum Muda

Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang kita cintai. Dalam benak kita sebagai generasi penerus bangsa adalah hasil jerih payah, memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia oleh para pahlawan dan proklamator bangsa ini. Apa sebetulnya makna dan tujuan kita mengadakan peringatan hari kemerdekaan itu?

Baca entri selengkapnya »

Sumpah Pemuda: Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu !!

Sekitar 81 tahun lampau, ratusan pemuda dari beraneka latar belakang suku, dan daerah berkumpul di sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat, sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Pada rapat penutup di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106 itu, para pemuda yang hadir mengucapkan suatu Sumpah Setia yang dikemudian hari dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Sumpah Setia itu merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa ormas pemuda memboikot kongres tahun 1926 karena ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda. Lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peran Theosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I 1(926) itulah yang kemudian menjadikan para pemuda memboikot kongres (lihat: Jejak Sejarah Yahudi di Indonesia, Ridwan Saidi).

Isi Sumpah Pemuda versi orisinal tersebut adalah:
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Demikianlah isi Sumpah Pemuda yang merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya, tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Demikianlah selintas kisah sejarah Sumpah Pemuda. Seberapa pentingkah Pemuda sehingga sampai-sampai sumpahnya pemuda menjadi salah satu kisah yang mengisi sejarah Republik Indonesia? Jauh sebelum Sumpah Pemuda itu ada, Rasul SAW telah bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi).

Selanjutnya dalam kesempatan lain, Rasul SAW memberikan kabar gembira dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”

Jika sumpah pemuda menggagas sumpah nasionalisme yang hanya terbatas pada konsep daerah dan wilayah tertentu, maka Islam yang diajarkan melalui Rasul SAW mengajarkan sumpah penghambaan hanya kepada Allah SWT saja.

Sumpah Syahadah (sebutlah demikian_pen), ternyata telah ampuh dan sangat jauh lebih ampuh melahirkan para pemuda-pemuda harapan dunia, tak hanya bangsa.

Sebutlah saja misalnya dari proses tarbiyah (pendidikan) Rasul SAW, telah lahir sejumlah pemuda hebat seperti yang paling muda adalah 8 tahun, siapa lagi kalau bukan Ali bin Abi Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun, Al Arqaam bin Abil Arqaam 12 tahun, Abdullah bin Mazh’un berusia 17 tahun, Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun, Qudaamah bin Abi Mazh’un berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia dibawah 20 tahun, ‘Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mush’ab bin ‘Umair dan Al Miqdad bin al Aswad berusia 24 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Umar bin al Khathab 26 tahun, Abu Ubaidah Ibnuk Jarrah dan ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amir bin Rabiah, Nu’aim bin Abdillah, ‘ Usman bin Mazh’un, Abu Salamah, Abdurrahman bin Auf dimana kesemuanya sekitar 30 tahun, Ammar bin Yasir diantara 30-40 tahun, dan Abu Bakar Ash Shiddiq 37 tahun.

Mereka secara keseluruhannya adalah kalangan pemuda, bahkan ada diantara mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa. Usamah bin Zaid diangkat oleh Nabi SAW sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Romawi) dalam usia 18 tahun. Padahal diantara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua seperti Usamah, Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan lain-lainnya. Abdullah bin Umar telah pula memiliki semangat juang yang bergelora untuk berperang sejak berumur 13 tahun. Ketika Rasulullah SAW sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar, Ibnu Umar bersama al Barra’ datang kepada Rasul SAW seraya meminta agar diterima sebagai prajurit. Saat itu, Rasulullah SAW menolak kedua pemuda kecil itu. Tahun berikutnya, pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tapi yang diterima hanya Al barra’. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin (lihat Shahih Bukhari VII/266 dan 302).

Mereka merupakan orang-orang yang menjadikan masa mudanya dengan ukiran sejarah. Sumpah setia mereka akan syahadah luar biasa. Tak salah bila Nabi Saw berucap tentang Pemuda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”

Sudahkah kita bersumpah setia selaksana para pemuda Islam seperti mereka di atas? Ataukah kita masih menjadi pemuda yang hidup di bawah bayang-bayang ayah, ibu, orang tua, keluarga, dan romansa masa lalu?

Saya teringat nasehat seorang kawan, “innal fata man yaqul ha ana dza, laysal fata man yaqulu ka na abi..!! (Seorang pemuda ialah siapa yang berani menepuk dada dan berkata “inilah aku”. Bukan pemuda yang mengatakan “adalah ayahku” alias membanggakan orang lain semata).

“inna fii yadii sukban amrul ummah wa fii aqdaamiha hayataha”

(Sungguh di tangan pemuda-lah masa depan / urusan ummat, dan di atas pundaknyalah kelangsungan kehidupannya)

Oleh karenanya, saya sampaikan sebuah pesan untuk saya dan para pemuda, ”Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu…!!!”

IQRO CLUB KEMAYORAN

Ditulis dalam Mentor Islam, Wawasan. Kaitkata: . 2 Komentar »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.