Mentoring Agama Islam Weblog

Tren Baru Remaja Islam Indonesia

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kepemimpinan’

MENCOBA MENJADI PEMIMPIN YANG “SAJAAH”

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 13, 2009

Oleh: Fajar N.
Saya masih teringat dengan pesan AVP SDM perusahaan saya ketika memberikan training leadership yang saya ikuti tahun silam. Beliau mengatakan bahwa seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk memiliki kriteria “Shidiq-Amanah-Fathonah-Tabligh”, namun juga “Sajaah”. Apa itu “sajaah” ?. Menurut beliau, “sajaah” artinya “berani”. Namun “berani” di sini tentu saja tidak asal “berani” namun berani dalam membela kebenaran. Ucapan beliau ini menjadi catatan tersendiri bagi saya dan saya sedang berusaha untuk membuktikan apa yang beliau wasiatkan.

Salah satu langkah dalam mewujudkan kepemimpinan yang “sajaah” adalah dengan memperbaiki sistem kerja dan tatanan organisasi yang “bengkok” menjadi “lurus”. Contohnya tentu saja sangat banyak, diantaranya yang coba saya lakukan adalah : (1) menghapus KKN dan nepotisme (2) menghapus agen-agen gelap alias siluman (bertentangan dengan regulasi) (3) menghapus agen-agen yang menjabat decision maker (bertentangan dengan kaidah muammalah), dan (4) mengembalikan hak-hak agen yang terampas (menegakkan keadilan).

(1) Menghapus KKN (Kolusi-Korupsi-Nepotisme)

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam semua institusi tidak bisa dipastikan tidak ada KKN. Contoh, seorang agen asuransi sebenarnya dibayar sesuai profesinya sebagai agen yaitu melakukan proses pemasaran, mulai dari menjelaskan produk, membantu calon tertanggung dalam mengisi form asuransi, mengantar form tersebut ke kantor, menyerahkan polis kepada tertanggung, sampai melakukan assistensi saat kapan pun dibutuhkan tertanggung. Jika agen yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pejabat atau karyawan betul-betul menjalankan tugas-tugas keagenan dengan baik tentu saja tidak menjadi masalah apabila hak-hak agen dapat dikeluarkan. Namun apa jadinya jika agen ini hanya dipakai sebagai cara untuk mengakali sebuah aturan misalnya karyawan tidak dapat memperoleh komisi penutupan. Sungguh celaka jika ada orang yang mencari-cari “akal” untuk mengelabui peraturan. Sungguh celaka pula jika sang agen KKN seperti ini mendapat reward dari angka-angka prestasi yang diraihnya padahal prestasinya adalah prestasi “bodong”. Lebih celaka lagi jika ia tidak tahu product knowledge.

(2) Menghapus agen-agen gelap alias siluman

Mengangkat agen-agen gelap selain bermakna mengesampingkan harkat dan martabat profesi seorang agen juga berpotensi tinggi terhadap munculnya masalah baru bernama “penyelewengan premi”. Banyak kasus yang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan asuransi dimana agen-agen gelap yang direkrutnya melakukan “penilepan” premi. Yang dimaksud agen-agen gelap adalah agen-agen yang tidak memiliki kontrak keagenan dengan perusahaan. Dengan dalih untuk meraup premi setinggi mungkin, aturan legalitas ditinggalkan begitu saja. Tanpa adanya kontrak keagenan, pihak kepolisian pun tidak dapat berbuat banyak untuk melakukan pengusutan. Sang agen gelap dengan tenang kabur meloloskan diri dengan segepok uang premi, ironis bukan !.

(3) Menghapus agen-agen yang menjabat decision maker

Decision maker di sini adalah orang yang menduduki posisi kunci (key person) dalam tubuh perusahaan yang hendak kita prospek. Keputusan di bidang ini sebenarnya menduduki point yang paling sulit bagi seorang pemimpin (di institusi syariah) karena masih terjadi perbedaan pandangan di kalangan pelaku mengingat konsekuensi yang timbul sangat berat, terutama hilangnya bisnis yang sudah dan akan kita peroleh. Hanya orang-orang yang tidak mengejar prestasi duniawi saja yang bisa melakukan hal ini atau orang yang ikhlas siap kehilangan jabatan karena tak tercapai target.

(4) Mengembalikan hak-hak agen yang terampas

Persoalan ini rawan sekali dengan konflik internal. Jika hak seseorang merasa dirampas oleh orang lain mungkin saja seumur hidup dia tidak akan dapat melupakan kejadian ini. Dan tidak mustahil, doa-doa yang tidak baik dapat saja meluncur tertuju kepada orang yang merampas haknya. Padahal doa dari orang tertindas adalah salah satu dari doa yang makbul. Maka menjadi kewajiban dari pemimpin untuk mengembalikan hak-hak yang terampas. Kita saja diajarkan dalam berdagang tidak boleh merampas proses penawaran yang terjadi antara pedagang dan penawar pertama. Bahkan jika telah terjadi akad jual beli antara keduanya maka haram ada pihak lain yang masuk. Abu Hurairah ra. mengatakan, “Rasulullah SAW melarang orang membeli barang yang sedang ditawar saudaranya dan melarang seseorang meminang wanita yang sedang dalam pinangan saudaranya” (HR Bukhari Muslim). Begitu pula dalam melakukan bisnis pemasaran, tidak boleh seorang marketer melakukan penawaran kepada calon nasabah yang sedang dalam “garapan” marketer pertama, apalagi men-sabotase alias menelikung di saat-saat detik penutupan. Jika masih terjadi praktek-praktek seperti ini maka konsep pemasaran dalam kaca mata syariah gagal total.

Itulah beberapa konsep “sajaah” yang coba saya jalani dari wasiat AVP saya. Langkah ini boleh jadi dipandang terlalu “ekstrim” bagi sebagian besar orang namun saya hanya berusaha untuk mewujudkan sedikit nilai-nilai kebenaran meski terkadang sangat “pahit” dilakukan.

Sumber:http://pojokasuransi.com/blog/manajemen-islami/mencoba-menjadi-pemimpin-yang-%E2%80%9Csajaah%E2%80%9D/

Ditulis dalam Tidak terkategori | Bertanda: | Leave a Comment »

THE RIGHT MAN IN THE RIGHT PLACE

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 13, 2009

Kisah yang paling tepat dalam menggambarkan konsep “the right man in the right place” model Islami adalah seperti yang dialami Abdurrahman Ibn Sumurah maupun Abu Dzar Al-Ghifari dimana Rasulullah SAW yang saat itu menjadi pemimpin ummat tahu betul kelemahan dari kedua sahabatnya tersebut. Bahkan ketika Abu Dzar meminta jabatan kepada Nabi SAW saat teman-temannya telah menjadi gubernur, Rasulullah SAW berkata, “Innaha amanah wainnaka dhaif” yang artinya “Ini adalah amanah (yang berat) dan engkau adalah orang yang lemah”. Sehingga Rasul menyatakan bahwa tempat terbaik (the right place) untuk Abu Dzar adalah sebagai penulis hadits, bukan sebagai gubernur.

Saya yakin banyak diantara Anda yang kini menduduki jabatan strategis dalam perusahaan dan jabatan itu tentu saja tidak didapatkan dengan mudah. Manajemen mempercayakan jabatan itu kepada Anda setelah melalui “fit and proper test” dengan melihat keunggulan-keunggulan dan potensi Anda di masa depan. Namun barangkali hanya sedikit diantara Anda yang meminta sendiri kepada manajemen untuk melakukan “fit and proper test” kepada diri Anda. Artinya ada kesadaran dari diri Anda sendiri untuk mengukur sejauh mana jabatan itu layak Anda sandang.

Saya amat bersyukur dan mungkin menjadi satu-satunya karyawan di lingkungan perusahaan saya yang meminta secara terang-terangan kepada manajemen untuk melakukan assessmen di akhir periode caretaker yang saya jalani selama 6 (enam) bulan. Bahkan di awal penunjukan caretaker, saya sempat menyatakan “keberatan” dengan berbagai pertimbangan. Tujuannya bukan untuk mencari sensasi atau sok gagah-gagahan di depan manajemen, namun demi nilai objektivitas dari sebuah keputusan dan menghindari fitnah-fitnah yang tidak sedap di kalangan rekan sejawat. Pertanyaan awal adalah apakah pantas saya menduduki jabatan yang sedemikian penting. Berikutnya apakah saya telah memenuhi kaidah “the right man in the right place” tadi. Maka, ketika SK caretaker saya hampir habis, saya kembali me-remind manajemen agar melakukan re-assessment terhadap kepemimpinan saya selama masa jabatan caretaker tadi sehingga saya siap untuk dicopot dari jabatan dan mengembalikannya kepada manajemen.

Dan alhamdulillah, saya pun menjalani serangkaian assessmen berupa psikotest di sebuah lembaga jasa psikologi di Batam. Inilah sikap realistis yang harus saya jalani. Mengukur kemampuan diri adalah sesuatu yang sangat berharga. Saya yakin tidak semua orang bisa berhasil secara sempurna dalam semua bidang karena saya pun yakin bahwa setiap orang telah dikarunia Allah SWT kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin saya kuat dalam bidang analisa underwriting namun lemah dalam bidang pemasaran. Mungkin saya lebih tahu internet dan blog dibanding karyawan lain namun lemah dalam teknik negosiasi. Mungkin saya kuat dalam komunikasi tertulis (written) namun lemah dalam komunikasi lisan (oral). Begitulah dimensi kekuatan dan kelemahan manusia. No body perfect. Sehingga yang diperlukan oleh perusahaan sebenarnya adalah bagaimana melakukan pemetaan potensi sumber daya manusia yang dimiliki untuk kemudian diberdayakan pada posisi yang tepat. Orang yang tepat didudukkan pada posisi yang tepat akan menjadi sumber kekuatan yang sangat dahysat. Namun apabila terjadi sebaliknya, maka alamat menunggu kehancuran datang.

Mestinya kita berkaca pada diri Abu Dzar yang bisa bersikap legowo dalam menerima pernyataan Rasulullah tentang kelemahannya. Begitu pula dengan Abu Bakar Shiddiq yang tidak pernah menjadi panglima perang, karena ia sadar dengan kemampuan dirinya yang lebih cocok menjadi seorang negarawan. Maka konsep “the right man in the right place” sesungguhnya terlahir dari khazanah dunia kepemimpinan Islam.

Sumber: http://pojokasuransi.com/blog/manajemen-islami/the-right-man-in-the-right-place/

Ditulis dalam Tidak terkategori | Bertanda: | Leave a Comment »

UMAR BIN ABDUL AZIZ ; THE GREAT LEADER !

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 13, 2009

Anda pasti kenal Umar bin Abdul Aziz. Setidaknya pernah mendengar nama yang satu ini. Bagi para calon pemimpin dan para pemimpin yang sedang berkuasa, berkacalah dengan tokoh Islam yang satu ini, niscaya Anda akan selamat dari siksa neraka kelak !.

Umar bin Abdul Aziz atau yang sering dikenal sebagai Umar II adalah satu-satunya khalifah yang namanya disejajarkan dengan Khulafaurrrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Dari sisi kesalehan ibadahnya pun tidak diragukan lagi. Menurut Anas bin Malik, cara shalat Umar bin Abdul Aziz sama dengan cara shalat Nabi Muhammad SAW.

Pelajaran apa yang perlu dipetik dari Umar bin Abdul Aziz sehingga begitu penting untuk dijadikan pelajaran bagi para calon pemimpin maupun “incumbent” ?. Jawabannya adalah bahwa Umar bin Abdul Aziz mungkin menjadi satu-satunya orang yang bersedih hati manakala diberi jabatan kekuasaan. Fenomenal bukan ?. Ketika orang di penjuru dunia berlomba-lomba menjadi pemimpin, Umar justru bersikap sebaliknya. Apa pasal seorang tokoh legendaris bersedih hati terhadap “hadiah” kekuasaan yang didapatkannya ?. Bukankah ia tidak meminta jabatan tersebut ?.

Dikisahkan ketika suatu saat ia sedang menjabat kekuasaannya, isterinya, Fatimah mendapati diri Umar sedang menangis di kamarnya. Fatimah pun menanyakan apa yang sedang terjadi pada diri suaminya. Lalu Umar menjawab, “Ya Fatimah, saya telah dijadikan penguasa atas kaum muslimin dan orang asing dan saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang tertimpa kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua yang patut dihormati, orang yang mempunyai keluarga besar namun penghasilannya sedikit, serta orang-orang dalam keadaan serupa di Negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Berbangkit dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimana pun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis.”

Sungguh luar biasa bukan sikap Umar di atas !. Ia adalah tipe pemimpin yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya. Kekuasaan bagi dirinya bukanlah suatu nikmat namun sebuah cobaan dan malapetaka. Secara gamblang kita dapat menangkap bagaimana perasaan hati Umar tatkala ditunjuk sebagai khalifah. Bergembiralah ia ?. Tidak !. Yang terjadi justru kesedihan dan rasa berat hati. Ia sadar bahwa kekuasaan mengandung konsekuensi yang sangat berat terutama menyangkut bagaimana ia harus menegakkan sendi-sendi keadilan dalam pemerintahannya. Sampai perkara yang kecil saja, Umar begitu perhatian. Lihat saja ketika ia memilih mematikan lampu di kerajaannya manakala anaknya datang untuk keperluan pribadi. Tidak salah apabila khalifah yang satu ini patut dijadikan teladan bagi para calon pemimpin maupun pemimpin yang sedang berkuasa agar kehidupan akhiratnya kelak terselamatkan dari api neraka !.
Sumber: http://pojokasuransi.com/blog/manajemen-islami/umar-bin-abdul-aziz-the-great-leader/

Ditulis dalam Tidak terkategori | Bertanda: | Leave a Comment »