Mentoring Agama Islam Weblog

Tren Baru Remaja Islam Indonesia

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘mentoring smp’

Hotel dengan Kaidah Syari’ah

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 27, 2008

Pembentukan Bank Muamalat tahun 1992 sebagai Bank Syari’ah pertama di Indonesia merupakan titik awal pertumbuhan dan perkembangan paradigma ekonomi Syari’ah secara faktual di bumi pertiwi ini. Hal ini berlanjut dengan perkembangan lingkup derivatif (turunan)-nya, berupa Asuransi Syar’iah, Obligasi Syar’iah, Reksadana Syar’iah, Pegadaian Syar’iah, Program Tivi Syar’iah, dll. Sesungguhnya paradigma ini telah pula berkembang jauh sebelumnya di luar negeri, sejak tahun1970-an, bahkan juga di negara-negara Barat sekalipun, yang pada dasarnya bersifat terbuka untuk menerimanya.
Keterbukaan dan kesediaan ini terbukti dengan ikut-sertanya lembaga-lembaga keuangan terkemuka seperti Citibank, ABN Amro, HSBC yang juga menyediakan desk layanan perbankan Islam. Begitu pula  di bidang pasar modal dunia, dengan Dow Jones Islamic Index di New York Stock Exchange. Dunia Barat memandang hal ini sebagai satu Ethycal Invesment atau Bisnis biasa saja; yang membingkai nilai-nilai komersial suatu bisnis dengan nilai-nilai tertentu. Demikian pula dengan paradigma Ekonomi dan Bisnis Syari’ah merupakan kebijakan dan prinsip-prinsip yang melengkapi praktek ekonomi dan bisnis pada umumnya.

Sedangkan usaha perhotelan merupakan usaha yang bergerak dalam jasa akomodasi, yang dikelola secara komersial, serta memenuhi ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan-peraturan pemerintah. Bahkan dalam Ketentuan Usaha Bidang Perhotelan, pada Bab VII Ps. 24 ayat 1, dijelaskan: Dalam menjalankan usaha hotel, pimpinan hotel wajib untuk: (a) Memberi perlindungan kepada para tamu hotel; (b) Menjaga martabat hotel, serta mencegah penggunaan hotel untuk perjudian, penggunaan obat bius, kegiatan-kegiatan yang melanggar kesusilaan, keamanan dan ketertiban umum.

Dari ketentuan itu, dapat dipahami bahwa hotel pada dasarnya merupakan satu bidang usaha yang bersih. Bahkan secara implisit pihak hotel berkewajiban untuk melarang hal atau tindakan yang akan melanggar kesusilaan serta tindak kejahatan secara umum. Namun karena kecenderungan nafsu hedonistis, ketetapan yang sedemikian baik ini kemudian diabaikan, beralih pada praktek yang bertolak belakang dengan ketentuan pemerintah itu, dan dari sisi agama menjadi bernilai maksiat.

Kaidah Syari’ah
Memang diakui, sampai sejauh ini, standar hotel Syari’ah yang baku belum ada, dan belum pula dibuat oleh lembaga-lembaga keislaman yang terdapat di negeri ini, seperti MUI, Departemen Agama, maupun oleh Ormas-ormas Islam, dll. Namun sesungguhnya bukan hal yang sulit pula untuk membuat ketentuan usaha perhotelan yang sesuai dengan kaidah Syari’ah. Karena pada dasarnya, usaha perhotelan merupakan satu dari sekian banyak usaha yang mungkin dilakukan manusia, dan dalam kaidah Syari’ah, hal itu tetap diperbolehkan, selama tidak ada dalil (nash) yang melarangnya secara tegas. Sesuai dengan kaidah yang menyatakan: “Hukum asal dalam muamalah adalah boleh, selama tidak ada dalil yan mengharamkannya.”

Meskipun demikian terdapat rambu-rambu Syari’ah yang bersifat umum dalam menjalankan mu’amalah, usaha ekonomi, termasuk usaha perhotelan.  yakni:
a.Tidak memproduksi, memperdagangkan, menyediakan, atau menyewakan produk atau jasa yang secara keseluruhan maupun sebagiannya dilarang dalam ketentuan Syari’ah. Seperti dalam hal makanan, mengandung unsur babi; minuman khamar,  perjudian, perzinaan, dll., yang semacam itu.
b.Transaksi dilakukan berdasarkan jasa atau produk yang nyata, benar-benar ada. Tidak bersifat meragukan.
c.Tidak mengandung unsur kezhaliman, kemudharatan, kemungkaran, kemaksiatan maupun kesesatan yang terlarang dalam kaidah Syari’ah; baik secara langsung maupun tidak langsung.
d.Tidak ada pula unsur penipuan, kecurangan, kebohongan, ketidak-jelasan (gharar), resiko yang berlebihan dan membahayakan,
e.Ada komitmen menyeluruh dan konsekuen dalam menjalankan perjanjian yang disepakati antar pihak-pihak terkait.

PT. Sofyan Hotels Tbk., merupakan Lembaga Bisnis Syari’ah pertama yang mendapat Sertifikat Bisnis Syari’ah dari Dewan Syari’ah Nasional MUI No. 001/07/B/DSN/MUI/2003, tertanggal 26 Juli 2003/26 Jumadil Awal 1424H., yang dalam kegiatan operasionalnya terikat dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah Islam

PT. Sofyan Hotels Tbk dirintis oleh Drs. Sofyan Ponda pada awal dekade 1970-an, bermula dengan 60 kamar di Hotel Menteng I Jl. Gondangdia; dan 80 kamar di Hotel Menteng II di Jl. Cikini. Pihak manajemen berhasil mengembangkan perusahaan ini menjadi total 163 kamar pada 1989, dan melakukan Go Publik dengan hasil penjualan yang sangat menggembirakan, dimana penjualan saham mencapai oversubscribed 300%. Dana yang diperoleh dari hasil go public ini dipergunakan untuk membeli tanah dan bangunan di Jl. Cut Mutiah daerah Menteng yang kemudian dibangun menjadi Hotel Sofyan Betawi dengan kapasitas 90 kamar.

Pada mulanya pengelolaan ketiga hotel itu dilakukan secara konvensional, dengan menyediakan berbagai fasilitas Laundry, Diskotik, Health Center, Santai Musik Club, Fitness Center dan Restoran dengan berbagai menu makanan maupun minuman Indonesia, China, Eropa dan Amerika. Usm.

http://www.halalguide.info/content/view/380/

Ditulis dalam Mentor Islam, Wawasan | Bertanda: , | Leave a Comment »

Sifat Orang-orang Bertaqwa

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 23, 2008

Puncak prestasi manusia disisi Allah ialah taqwa, banyak sekali disebutkan karakteristik orang-orang beriman didalam Al-Qur’an, patut kita telaah dan kita kaji sebagai cermin dan keteladanan dalam mengisi kehidupan menuju kepada kesempurnaan. Sebelum Al-Qur’an menjelaskan tentang hukum syari’at dan seluk beluk kehidupan manusia, lebih dahulu telah disifatkan orang-orang yang dapat menerima kebenaran Al-Qur’an tersebut.Pada lembaran permulaan setelah Al-Fatihah, yaitu pada awal surat Al-Baqarah.

“Alif lam mim, kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 2).

Selanjutnya dijelaskan pada ayat berikutnya sifat-sifat orang yang bertaqwa tersebut, antara lain :

ALADZIINA YU’MINUUNA BIL GHAIBI ( yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib ).

Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh panca indera. Percaya kepada yang ghaib yaitu mengi’tikadkan adanya sesuatu yang “wujud” yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, karena ada dalil yang menunjukan kepada adanya, seperti adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya – ( Tafsir Depag ).

Baik buruknya perilaku seseorang, amat tergantung tebal tipisnya iman kepada yang ghaib ini, semakin kuat imannya kepada yang ghaib akan semakin kuat dorongan untuk berbuat kebaikan. Mewakili sosok manusia taqwa yang penuh kejujuran dan tanggung jawab secara sempurna, seperti disebutkan dalam sebuah hadits :

“Ada tujuh golongan manusia istimewa disisi Allah kelak yang akan mendapatkan naungan kehormatan yang justru tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

1.  Imam yang ‘adil

2.  Pemuda yang tumbuh berkembang dan senantiasa beribadah kepada Allah ta’ala

3.  Seorang yang hatinya selalu tertambat pada masjid. ( Orang yang memperhatikan waktu-waktu shalat berjama’ah di masjid dan menjadikan masjid sebagai rumahnya yang kedua sesudah rumahnya ).

4. Dua orang yang berkasih sayang semata-mata karena Allah, baik ketika bertemu atau ketika berpisah.

5.  Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan yang cantik, namun ia menolak dengan mengatakan : “ Aku takut kepada Allah.”

6.  Seorang yang bersedekah dirahasiakan, sehingga tidak diketahui oleh yang kiri apa yang dilakukan oleh yang kanannya.

7.  Seorang yang berdzikir ingat kepada Allah sendirian sehingga berlinang air mata. (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

Contoh sosok manusia taqwa tersebut hanya ada pada manusia yang beriman kepada yang ghaib, meyakini dan mengamalkan kebenaran Al-Islam dan selalu merasa diawasi Allah yang disebut dengan Ihsan.

Sebaliknya menipisnya iman kepada yang ghaib akan semakin mudahnya manusia melakukan perbuatan tidak terpuji. Kontrol pengendali diri hanya mengandalkan kemampuan nalar tidak akan bisa lepas dari pengaruh nafsu, sedang nafsu cenderung kepada hal-hal yang negatif.

“(Nabi Yusuf berkata). “ Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh ( Allah ) Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf : 53 )

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan ( yang menyesatkan) maka setan itulah yang akan menjadi teman yang akan selalu menyertainya.” (QS. Zukhruf :36).

Keserakahan dan kesewenang-wenangan yang ikut mewarnai peradaban hari ini lebih canggih lagi, karena didukung oleh intelektual dan material, kenakalan remaja, perkelahian antar pelajar ini juga merupakan bukti kelalaian orang tua dan guru yang hanya menitik beratkan kepada kecerdasan otak anak-anaknya dari pada mengisi jiwanya dengan  aqidah dan keimanan kepada yang ghaib.

WA YUQIMUUNASH SHALAH, ( mereka adalah orang-orang yang menegakan shalat ).

Shalat menurut bahasa Arab artinya do’a. Menurut istilah syara’ ialah ibadah yang sudah dikenal, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah menunaikan dengan teratur dengan melengkapi syarat syarat rukun dan adabnya, baik yang lahir maupun yang bathin seperti khusyu’. Memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya. (Terjemah Al-Qur’an Depag).

Ibnu ‘Abbas berkata : “Iqomatus shalah yaitu menyempurnakan ruku, sujud, bacaan dan khusyu’ (Tafsir Ibnu Katsir ).

Seperti yang kita imani bahwa shalat merupakan tiang agama tidak menegakkanya berarti merobohkan agama. Shalat menopang azas keislaman, secara vertikal shalat mengukuhkan hubungan seorang hamba dengan penciptanya sekaligus memiliki nilai khusyu’ disisi Allah dan manfaat yang tidak ternilai bagi kemerdekaan jiwa yang mampu menahan diri dari keji (kedurhakaan) dan kemungkaran.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya shalat itu mencegah ( perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat (shalat) adalah lebih besar (keutamaanya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Ankabut : 45)

Islam menekankan agar shalat dilakukan dengan berjama’ah dan mewajibkan shalat jum’at pada tiap-tiap pekan dengan berjama’ah menurut cara tertentu.

Adalah shalat berjama’ah itu melahirkan persatuan, kecintaan dan persaudaraan sesama kaum muslimin dan menjadikan mereka satu bangunan yang bersusun kuat. Ketika mereka berkumpul (shalat berjama’ah) dengan khusyu’ bagi Allah semata-mata. Mereka, ruku’ dan sujud bersama-sama, terpadulah hati mereka dan tumbuhlah pada diri mereka rasa persaudaraan antara sesama mereka.

Shalat berjama’ah itu melatih mereka untuk mematuhi seorang imam yang dipilih diantara mereka, mendidik mereka diatas ketertiban, disiplin dan menjaga waktu. Menciptakan sifat tolong menolong, berkasih sayang, persaman dan kerukunan dikalangan mereka.

(Prinsip-prinsip Islam : Abul A’la Maududi ).

WA MIMMA RAZAQNAAHUM YUNFIQUN. (Dari apa yang Kami rizkikan mereka infakkan).

Ibnu ‘Abbas berkata : “Zakat harta”

Qatadah berkata :” Belanjakan apa yang diberikan Allah kepadamu ( di jalan Allah ) sebab harta kekayaan hanya titipan sementara padamu dan tidak lama akan berpisah.”

Seringkali Allah menggandengkan perintah shalat dengan zakat dan infak, sebab shalat ibadah yang meliputi tauhid, pujian dan do’a serta penyerahan diri kepada Allah, sedang infak berupa uluran tangan dan budi baik kepada sesama manusia. Infak disini meliputi semuanya yang wajib maupun yang sunat. (Ibnu Katsir ).

Orang-orang yang menafkahkan hartanya disebut al-munfikin ( orang yang bertaqwa ).” Yaitu orang-orang yang menafkahkan ( hartanya ) baik diwaktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali-Imran : 134 ).

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian ( tidak meminta ).” (QS. Adz-Dzariat : 156 ).

Sifat orang-orang yang bertaqwa yang ketiga ini membentuk manusia yang memiliki kepekaan sosial dan ukhuwah Islamiyah yang tinggi, sekaligus mengikis individualistis produk materialisme yang hanya mementingkan diri sendiri. Monopoli ekonomi, exploitasi terhadap sesama dalam setiap kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

WALADZIINA YU’MINUUNA BIMAA UNZILA ILAIKA WA MAA UNZILA MINQABLIKA. (Orang-orang yang beriman kepada Al-Kitab).

“Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu ( yakni Al-Qur’an ) dan kepada apa yang diturunkan dari sebelum kamu (yakni Zabur, Taurat dan Injil). (QS. Al-Baqarah : 4 )

Apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an.

“(Al-Qur’an ) ini adalah Al-Kitab yang tdak mengundang keraguan (pasti) didalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah :2).

Pada ayat yang lain Allah berfirman :

“Hai manusia telah datang kepadamu nasehat ( tuntunan ) dari ( Allah ) Tuhanmu dan obat penyembuh dari berbagai penyakit dalam dada dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus : 57 )

Dengan penjelasan ayat-ayat tersebut maka jelas derap dinamika kehidupan manusia dengan segudang permasalahan yang sangat komplek justru sangat memerlukan bimbingan dan petunjuk wahyu. Sikap orang-orang beriman yang bertaqwa tidak diragukan lagi akan menjadaikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang menempatkannya pada skala prioritas terdepan sebagai pemandu jalan hidupnya sampai ke surga kelak. Dalam hal ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga hawa nafsumu tunduk kepada apa yang aku bawa.” ( Al-Qur’an).” ( HR. Al-Hakim ).

“Al-Qur’an itu penolong yang diperkenankan pertolongannya dan pembela yang dibenarkan pembelaannya. Barangsiapa menjadikan Al-Qur’an di depan ( sebagai pedoman ) dia akan menuntun kedalam surga dan barangsiapa menjadikan Al-Qur’an dibelakang, maka ia akan menyeret ke dalam neraka.” (HR. Ibnu Hibban dan Baihaqi dengan sanad yang baik ).

WABIL AKHIRATIHUM YUUQINUUN. ( Dan terhadap hari akhir (kiamat) mereka iman (yakin).

Sudah menjadi kepastian dari Allah bahwa alam ini akan berakhir, kiamat pasti terjadi. Ini keyakinan orang yang beriman yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak mungkin menjadi seorang mukmin (taqwa) tanpa iman kepada hari akhirat. Bahkan keingkaran seseorang kepada hari akhirat menjatuhkan dia dari derajat manusia kepada derajat binatang yang paling rendah.

Analisa para ahli ilmu sepakat bahwa alam ini tidak kekal. Semua kekuatan dan benda-benda yang ada didalamnya adalah terbatas, tidak boleh tidak satu ketika akan binasa. Para sarjana ilmu alam pun telah bulat pendapatnya, bahwa matahari suatu saat akan mati, dingin dan hilang cahanya. Keseimbangan daya tarik dan peredaran planet-planet pun akan lenyap.

Orang beriman meyakini bahwa akhirat itu lebih baik dari kehidupan di dunia ini.

“Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka. Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” (QS. Al-Gashiyah : 25-26).

http://blog.its.ac.id/indramuslim/2008/01/25/sifat-orang-orang-bertaqwa/

Ditulis dalam Junior Mentoring Islam, Suplemen | Bertanda: , | Leave a Comment »

Akhlak Ketika Menjenguk yang Sakit

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 23, 2008

Segala puji bagi Allah, Tuhan pencipta alam semesta, pencipta langit, dan bumi serta keseluruhan isinya, dan yang menyuruh hamba-Nya untuk saling mengasihi, tolong menolong dalam hal kebaikan dan saling mencegah dalam kemungkaran.

Rasulullah Shallalaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada 6 perkara :
1. Apabila engkau bertemu dia, hendaklah engkau memberi salam kepadanya
2. Dan apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau perkenankan undangannya.
3. Dan apabila ia meminta nasehat, hendaklah engkau memberi nasehat kepadanya.
4. Dan apabila ia bersin, lalu berkata” Alhamdulillah”, hendaklah engkau doakan ia.
5. Dan apabila ia sakit, hendaklah engkau melawatnya (mengunjunginya).
6. Dan apabila ia meninggal dunia, hendaklah engkau turut mengantar jenazahnya.

(H.R Muslim)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, dijelaskan bagaimana mendo’akan yang bersin, setelah ia mengucapkan “Alhamdulillah”, maka bagi yang mendengarkannya hendaklah berkata, “Yarhamukallah”  yang artinya “mudah-mudahan engkau mendapat Rahmat Allah”. Selanjutnnya yang bersin tadi hendaknya menjawab ” Yahdikumullahu“  artinya “mudah-mudahan Allah menunjuki engkau”. Demikian keterangan dari hadist yang diriwayatkan Bukhari dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu.

Semoga apa yang telah digariskan oleh Rasulullah S.A.W tersebut diatas dapt kita amalakan dalam wujud perbuatan kita, ikhlas karena Allah S.W.T. semata, amin ya rabbal ‘alamin.

Akhlak ketika Menjenguk yang Sakit

Melawat atau melihat seseorang Muslim yang sakit adalah hak atas muslim lainnya untuk melawatnya atau melihatnya dengan tidak memandang ringan atau beratnya penyakit yang dideritanya. Satu contoh, sewaktu sahabat Nabi Shallalaahu ‘alaihi wa Sallam,  Zaid bin Arqam menderita sakit; “Telah berkata Zaid bin Arqam : Rasulullah S.A.W. pernah melawat saya (dikala saya) sakit mata”.(H.R. Abu Daud)

Kalau kita perhatikan disini, penyakit yang diderita oleh sahabat Zaid bin Arqam, adalah suatu penyakit yang boleh dikatakan ringan, yakni ’sakit mata’. Tetapi sekalipun demikian, Nabi S.A.W. mengunjunginya. Disini dapat kita tarik satu kesimpulan, bahwa ringan atau beratnya penyakit yang diderita seorang Muslimin bukanlah menjadi masalah.
Oleh sebab itu, apabila salah seorang muslim menderita sakit, sekalipun sakit yang dideritanya itu ringan, maka hendaknya kita menengoknya.  Seseorang yang sakit, kemudian mendapat kunjungan dari saudara yang lainnya, Insya Allah akan gembira hatinya dan penderitaannya akan sedikit terobati.

Kemudian dalam  melawat si sakit, disunahkan mendoakannya:
Artinya: ”Ya Allah,Tuhan umat manusia. Hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah. (sesungguhnya) tidak ada kesembuhan melainkan penawar-Mu,  penawar yang tidak diikuti oleh penyakit.(H.R. Bukhari Muslim)

Dalam melawat seorang muslim yang menderita sakit, disunnahkan tidak memakan makanan apapun disitu, walaupun dijamu atau dihidangkan oleh ahli bait (rumah) itu. Tentunya hal ini harus dilakukan dengan bijaksana sehingga tidak menyinggung perasaan tuan rumah. Rasulullah Shallalaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila seseorang dari pada kamu melawat orang (muslim) sakit, maka janganlah memakan apa-apa disitu. Barang siapa memakannya, maka makanan itulah yang jadi (ganjaran) bagi lawatannya itu.” (H.R. Dailami).
Sebaliknya kita disunnahkan membawa makanan ketika melayat kepada yang sakit. “Barang siapa memberi makan orang sakit, barang (makanan) yang ia inginkan, niscaya Allah akan memberi makanan dari buah-buahan surga”.(H.R. Thabrani).

http://blog.its.ac.id/indramuslim/2008/01/26/akhlak-ketika-menjenguk-yang-sakit/

Ditulis dalam Mentor Islam, Suplemen | Bertanda: , | 1 Komentar »

Rahasia Shalat Dhuha

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 9, 2008

Oleh : Amir Faishol Fath

Allah SWT dalam beberapa ayat bersumpah dengan waktu dhuha. Dalam pembukaan surat Assyams, Allah berfirman, ”Demi matahari dan demi waktu dhuha.” Bahkan, ada surat khusus di Alquran dengan nama Addhuha.

Pada pembukaannya, Allah berfirman, ”Demi waktu dhuha.” Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Benar, waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Di antara doa Rasulullah SAW: Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa. Artinya, ”Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi.”

Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu subuh dan dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda, ”Bagi tiap-tiap ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.” (HR Muslim).

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani’, ”Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai delapan rakaat.” (HR Muslim). Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasikan hadis ini kedudukannya hasan.

Jelaslah bahwa shalat Dhuha sangat penting bagi orang beriman. Penting bukan karena–seperti yang banyak dipersepsikan–shalat Dhuha ada hubungannya dengan mencari rezeki, melainkan ia penting karena sumpah Allah SWT dalam Alquran. Maka, sungguh bahagia orang-orang beriman yang memulai waktu paginya dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan shalat Dhuha.

Hikmah
REPUBLIKA

http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=447

Ditulis dalam Suplemen | Bertanda: , | Leave a Comment »

Kisah Pezina yang Bertobat

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Oktober 8, 2008

Ma`iz bin Malik datang menemui Rasulullah saw. seraya berkata :”Ya Rasulullah, bersihkanlah saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Rasulullah saw. menjawab: “Celaka engkau ! Pulanglah , Mintalah ampun kepada Allah swt. dan bertaubatlah kepada-Nya !”. Ma`iz lalu berpaling, tapi tidak berapa jauh dari tempat itu, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan berkata lagi :”Ya, Rasulullah. Suci kanlah diri saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Nabi saw pun berkata seperti sebelumnya, sampai terulang kejadian semacam itu tiga kali. Dan ketika untuk keempat kalinya Ma`iz menghadapnya dan mengulangi perkataannya itu, maka Rasul akhirnya bertanya kepadanya :”Dalam perkara apa ?”, ia menjawab :”Dari perbuatan zina”. Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada yang hadir ketika itu: “Apakah ia gila ?”, dan salah seorang sahabat mengabari bahwa Ma`iz sama sekali tidak gila. “Apa ia mabuk khamr ?” tanya Rasulullah saw selanjutnya. Lalu salah seorang di antara para sahabat itu bangkit dan mencium nafas yang keluar dari mulut Ma’iz, namun ia sama sekali tidak mencium bau minuman keras. Kemudian Rasulullah saw. mengintrogasinya :”Apa engkau telah berzina ?”, Ma`iz menjawab: “Benar, ya Ra sulullah.” Segera Rasulullah saw memerintahkan kepada para sahabat untuk merajamnya. Pada saat itu, yang hadir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pihak yang tidak senang atas perbuatan zina dengan berpendapat :”Celakalah, ia telah terjerat oleh dosa-dosanya.” Sedang pihak yang simpati atas pengakuan Ma`iz mengatakan : “Tidak ada taubat yang melebihi taubatnya Ma`iz.” Akhirnya Ma`iz menghampiri Rasulullah saw, dan berjabat tangan dengannya. Kemudian ia berkata :”Lemparilah aku dengan batu-batu sampai aku mati.” Maka ia dirajam dua atau tiga hari, kemudian datanglah Rasul sambil memberikan salam kepada para sahabat yang sedang duduk, dan beliau pun ikut duduk. Lantas Rasulullah saw. berkata :”Mintalah ampunan kepada Allah swt untuk Ma`iz bin Malik, sungguh ia telah benar-benar bertaubat kepada Allah swt, seandainya taubatnya itu kamu bagi-bagikan kepada satu ummat pasti akan mencukupinya.”

Beberapa hari sesudah itu, tiba-tiba datang seorang wanita dari daerah Ghamid menghadap Rasulullah saw seraya berkata :”Ya Rasulullah saw., sucikanlah diriku dari dosa-dosa yang telah aku lakukan.” Rasul menjawab :”Celakalah engkau, pulanglah!, mintalah ampun kepada Allah swt dan bertaubatlah kepada-Nya!”. Namun wanita itu kemudian bertanya :”Apakah tuan akan mengulangi sikap tuan terhadap Ma`iz kemarin kepada saya?”. “Ada apa dengan anda ?” Rasul bertanya kepadanya. Sambil mengusap perutnya yang sedang hamil, wanita itu menjawab :”Kehamilanku ini adalah hasil dari perbuatan mesum yang aku lakukan bersama Ma`iz!”. Dengan terkejut Rasûlullâh saw berkata :”Jadi engkau adalah wanita yang dihamilinya?”. Wanita itu menjawab “Benar!”. Baiklah, tunggu sampai engkau melahirkan anak yang ada dalam perutmu ini.” (Diriwayatkan dari Buraidah). Buraidah selanjutnya berkata :”Kemudian wanita itupun dirawat oleh seorang Anshar sampai akhirnya ia melahirkan anaknya. Kemudian ia pun kembali mendatangi Rasulullah saw dan berkata :”Aku telah melahirkan bayi dalam kandunganku”. Namun Rasulullah saw menjawab :”Tetapi saya tidak akan merajamnya dengan meninggalkan bayinya tanpa seorangpun yang menyusuinya.” Saat itu tampillah seorang dari kaum Anshar seraya berkata :”Saya akan menanggung penyusuannya ya Nabiyullah.” Selanjutnya Buraidah berkata :”Kemudian dirajamnya wanita itu.” (HR.Muslim No.1695).

Dalam riwayat An-Nasa`i, disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan menggali sebuah lubang dan mengubur wanita itu sampai ke dadanya, kemudian memerintahkan kepada kaum muslimin untuk merajamnya. Pada saat itu datanglah Khalid bin al-Walid dengan menggenggam sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu, sehingga darahnya memercik mengenai wajah atau dahi Khalid. Melihat itu, Khalid pun menyumpahi wanita itu, Rasulullah saw mendengar umpatan Khalid, dan memperingatinya :”Wahai Khalid, jangan engkau berkata demikian, demi Zat Yang jiwaku berada ditangan-Nya, Sungguh wanita ini telah melakukan taubat yang sebenar-benarnya, yang apabila taubatnya dibagikan kepada satu kaum pasti akan mencukupinya.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan mengangkat mayat wanita itu untuk di shalatkan dan dikuburkan. (HR.An-Nasa`i, dalam As-Sunan Al-Kubra, No. 7197).

http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=115

Ditulis dalam Suplemen, Tidak terkategori | Bertanda: , , , | 1 Komentar »

“Jirri Tudur” Syuhada Bumi Yarmuk

Ditulis oleh Ruswandi di/pada September 26, 2008

Gergorius sudah mati. Aku yang menikamnya karena Gergorius yang malang telah membelot menjadi seorang muslim,” perasaan gundah menyelimuti Margiteus yang tengah mengusap-usap pedang panjangnya yang berukiran matahari dengan 12 jilatan api itu.

Hah, mustahil mana mungkin terjadi, dia seorang Kristiani yang taat.” Argenta menatap tajam Margiteus

“Ya aku cuma bisa kesal, bingung dan sedih kenapa seorang panglima perang Romawi yang ulung harus mati di ujung mata pedangku.” Sesal Margiteus sambil membersihkan sisa darah di pedangnya.

Debu-debu beterbangan, menggumpal di atas bumi Yarmuk. Suara teriakan riuh jelas terdengar seiring rengekan suara onta dan kuda. Nyaring dan ngeri.

Saat itu, pasukan Islam tengah bertempur sengit di Yarmuk –wilayah perbatasan dengan Syria. Pasukan Islam bermarkas di bukit-bukit yang menjadi benteng alam, sedangkan Romawi terpaksa menempati lembah di hadapannya. Dengan jumlah tak kurang dari 240 ribu pasukan romawi, mereka kewalahan menghadapi pasukan muslimin yang hanya berjumlah 39 ribu orang saja. Puluhan ribu pasukan Romawi –baik yang berasal dari Arab Syria maupun yang didatangkan dari Yunani– tewas. Lalu terjadilah pertistiwa mengesankan itu.

Kondisi ini jelas tidak menguntungkan pasukan Romawi walaupun sebenarnya kehebatan pasukan Islam membuat kagum para panglima Romawi dan komandan pasukannya. Termasuk Gregorius Theodorus –orang-orang Arab menyebutnya “Jirri Tudur”– ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Maka saat masuk waktu istirahat Gregorius mendatangi Khalid untuk perang tanding. Dia menantang Khalid untuk berduel satu lawan satu. Sekilas tawaran ini dapat mengurangi jatuh korban, namun bisa saja menjadi taktik sekaligus sebagai ‘psy war’ dalam sebuah pertempuran yang malah dapat menganulir kemenangan kaum muslimin.

Theodorus adalah seorang panglima pilihan yang mempunyai hubungan erat dengan pembesar Bani Ghassan, sebuah kerajaan satelit Romawi di Syam (Syiria), oleh karena itu ia fasih berbahasa Arab. Khalid bin Walid tidak melewatkan tantangan itu, dan dengan serta merta menerimanya dengan sikap ksatria.

Dengan disaksikan oleh kedua kubu pasukan yang berseteru dari kejauhan dan di tengah-tengah benturan pedang kedua panglima tersebut. Dalam duel maut itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Luar biasa, rasa ta’jub begitu saja muncul di benak Gregorius, betapa tidak! Tombak bergagang baja itu rontok oleh sabetan pedang Khalid, padahal sepanjang pertempuran yang dipimpinnya tombak itu menjadi tumpuan pertahanan dirinya. Kepiawaian Khalid memainkan pedangkah? Tenaganya yang kuatkah? Atau memang benar pedangnya diturunkan dari langit? Rasa penasaran panglima Romawi ini makin menjadi-jadi. Dia seperti baru menemukan lawan tanding yang setimpal.

Dengan cepat dia ganti mengambil pedang besarnya. Kali yang kedua Gregorius berdecak kagum pasalnya dia merasa Khalid memberinya kesempatan untuk berancang-ancang karena dalam benak dia petarung sekaliber Khalid pastinya akan segera menyudahi duel itu disaat musuhnya lengah. Tetapi ternyata Khalid tidak melibas habis lawannya padahal kesempatan itu ada. Sikap patriot sejati tidak selamanya tercermin dari kegarangan menebas batang leher musuh. Ada kalanya kelembutan mengukir bukti atas sikap ksatria.

Akhirnya kedua paglima itu saling mendekat sampai-sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Saat itulah panglima Gregorius menyempatkan diri berdialog dengan Khalid:

“Ya Khalid, coba katakan dengan sebenar-benarnya dan jangan bohongi saya. Apakah benar Allah telah turun kepada Nabi anda dengan membawa pedang dari langit, lalu menyerahkannya kepada anda, sehingga anda memperoleh julukan “Pedang Allah”? Saya tahu setiap anda mencabut pedang itu, maka tidak ada lawan yang tidak tunduk!”

“Semua itu tidak benar!” tukas Khalid dengan singkat seraya tetap mempermainkan pedangnya untuk menangkis serangan pedang panglima Gregorius.

“Lantas mengapa anda dijuluki Pedang Allah?” tanya Gregorius lagi. Dan bagaikan tumbuh saling pengertian, keduanya kemudian menghentikan ayunan pedang. Keduanya tegak berhadapan di tengah laga, masih tetap bersiaga, dan meneruskan dialog.

“Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia mengutus seorang Nabi kepada kami. Semula kami menentangnya dan memusuhinya. Sebagian dari kami beriman dan mengikutinya. Saya termasuk pihak  yang mendustainya dan memusuhinya, tetapi kemudian Allah menurunkan hidayah ke dalam hatiku. Sayapun beriman dan menjadi pengikutnya. Rasulullah SAW berkata kepadaku: ‘Ya Khalid, engkau  adalah sebuah pedang di antara sekian banyak pedang Allah yang terhunus untuk menghadapi kaum musyrikin!’ Ia mendoakan saya supaya tetap menang. Sebab itulah aku dijuluki ‘Pedang Allah’ …” Khalid menuturkan apa adanya.

“Saya menerima keterangan anda itu dan tidak lagi percaya dengan segala legenda tentang diri anda,” ujar Gregorius yang kemudian meneruskan pertanyaannya.

“Di dalam tugas dakwah anda, apa sajakah yang anda sampaikan?”

“Mengakui bahwa tiada yang patut disembah selain Allah, dan mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah, dan berikrar dalam hati bahwa ajarannya itu datang dari Allah.”

“Jika seseorang tidak bersedia menerimanya?”

“Membayar jizyah, mengakui kepemimpinan Islam, dan setelah itu kami berkewajiban menjamin hak miliknya, jiwanya dan juga kepercayaan, keyakinan, agama yang dianutnya!”

“Jika ia tetap tidak mau menerimanya?”

“Pilihan akhir adalah perang, dan kami siap untuk itu!” jawab Khalid singkat-singkat, jelas dan tegas. Sementara di kedua kubu pasukan yang masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi di dalam perang tanding itu, panglima Gregorius meneruskan lagi dialognya,

“Bagaimanakah kedudukan seseorang yang menerima Islam pada pilihan pertama pada hari ini?”

“Kedudukan dan derajat bagi kami hanya satu di antara dua, yaitu apa yang ditetapkan oleh Allah. Mulia atau hina. Tak peduli ia menerima Islam lebih dulu atau belakangan!”

“Jadi, orang yang menerima Islam pada hari ini, ya Khalid, apakah sama kedudukannya dengan yang lain dalam segala hal?”

“Ya, Anda benar!”

“Mengapa bisa sama ya Khalid? Padahal anda sudah lebih dulu Islam dari padanya?”

“Kami memeluk Islam dan mengikat bai’at dengan Rasul Muhammad SAW. Ia hidup bersama kami, dan kami menyaksikan kebesaran dan mu’jizat-mu’jizatnya, hingga beliau wafat. Sedangkan orang yang menerima Islam pada hari ini, tidak pernah berjumpa dengan beliau dan tidak pernah menyaksikan semua itu. Jika orang itu menerima Islam dan menerima kerasulan Muhammad dan pembenarannya itu jujur serta ikhlas, maka sesungguhnya ia jauh lebih mulia dari pada kami!”

“Ya Khalid, keterangan anda sangat benar! Anda tidak menipu, tidak berlebih-lebihan dan tidak membujuk. Demi Allah, saya menerima Islam pada pilihan pertama!”

Seraya menuntaskan dialognya, panglima Gregorius melemparkan perisainya dan menyarungkan pedangnya. Ia bersama Khalid kemudian berjalan beriring menuju kubu perkemahan pasukan muslimin. Pasukan Romawi terkejut, mereka menyangka Gregorius telah ditaklukkan dan ditawan oleh Panglima Islam yang masyhur itu, yang kehidupannya nyaris menjadi sebuah legenda. Mereka panik, dan serunai perang pun ditiup guna mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam.

Sementara itu, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Panglima Gregorius bersyahadat dan minta pengajaran Islam di dalam kemah kaum muslimin. Setelah itu ia minta disediakan air bersih untuk  berwudhu. Untuk pertama kalinya ia melaksanakan sendi ajaran Islam yang kedua, shalat dua rakaat!

Setelah selesai mengerjakan shalat, maka Khalid bin Walid bersama dengan Gregorius Teodorus dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar dengan isyarat saja.

Subhanallah! Khalid bin Walid menundukkan Gregorius bukan dengan ketajaman pedangnya, tapi dengan kejujuran dan sikap sportifitasnya. Hal ini sebenarnya pernah berlaku pada diri Khalid sendiri. Khalid adalah lakon penting dibalik ambruknya kaum muslimin di perang Uhud. Berikutnya, bukan hunusan senjata yang membuatnya bertekuk lutut, kelembutan dakwah yang menjadikannya mukmin sejati. Dialah pedang Allah (Saifullah) yang menyiarkan Islam hingga membuka mata dunia. Alhasil, Rasulullah saw tidak membutuhkan kilatan pedang untuk menundukkan orang yang ganas. Cukup menyiraminya dengan kasih sayang. Dan pesona kelembutan sanggup melelehkan hati yang membatu sekalipun.

Sementara di luar kemah, pertempuran mulai berkecamuk. Kedua pihak mengerahkan kekuatan manusia, senjata dan strateginya. Di tengah-tengah sengitnya suara denting pedang dan raungan nafas yang terputus, tiba-tiba majulah dua orang panglima pasukan muslimin. Keduanya berdampingan dan saling bahu membahu. Mereka adalah Khalid bin Walid dan Panglima Gregorius Teodorus yang telah bersyahadat.

Pertempuran berlangsung selama dua hari. Medan laga telah bersimbah darah. Pekikan takbir dan kobaran semangat sambung menyambung tak putus-putusnya, seiring dengan tumbangnya tubuh-tubuh tak bernyawa ke permukaan bumi. Pasukan Romawi pada hari itu merasakan pedihnya sebuah kekalahan. Tentaranya kocar-kacir dan meninggalkan 50.000 jasad pasukan mereka yang bergelimpangan di medan laga. Di tengah rasa syukur kemenangan, kaum muslimin juga harus membayar mahal dengan merelakan 3000 orang syahidnya.

Pasukan Romawi mengalami kekalahan telak di tangan kaum muslimin. Mereka kehilangan 50.000 tentaranya. Pasukan Romawi kocar kacir, mereka mencari perlindungan di Damascus, Antokiah dan Caesarea serta ada juga yang turut serta dengan Kaisar Heraklius ke Constantinople. Pertempuran sehari itu meninggalkan cacatan hitam dalam sejarah perang Romawi yang sukar dipadamkan dalam sejarah. Mereka kalah telak dari pejuang yang kecil bilangannya dengan peralatan perang yang jauh ketinggalan dibanding mereka.

Dalam pertempuran itu, Gregorius yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan shalat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya.

Di sebuah lembah berbatu, panglima Khalid bin Walid tertunduk sedih, haru dan sekaligus bangga. Di hadapannya terbujur jasad asy-syahid Gregorius Teodorus dengan puluhan luka di sekujur tubuhnya. Gregorius syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Namun pasukan Islam mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Gregorius telah syahid. Panggilan fitrah telah membimbingnya kepada Islam. Kepada iman yang benar. Gregorius tak membutuhkan diskusi yang bertele-tele dan melelahkan untuk menerima Islam. Keberanian, kejujuran, sportifitasnya dan kehebatan strategi perang Khalid telah membawanya kepada pintu gerbang hidayah Islam.

Mantan panglima Romawi ini menjadi saksi atas agama mulia ini yang akan berkembang pesat justru berkat perilaku santun pemeluknya yang lekas menarik simpati berupa untaian indah akhlak dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Terbukti bahkan dalam peperangan, etika sosial sangat dijaga. Harkat kemanusiaan tetap terpelihara dalam bingkai kasih sayang. Tidak merusak fasilitas umum, tidak menggangu wanita, orang tua dan anak-anak, dilarangnya menebang tanaman, tidak membunuh lawan yang sudah menyerah dan berbagai perilaku indah lainnya, sehingga musuh pun terpikat seraya berseru, “Betapa indah ajaran ini!”

Dan tentunya keindahan persaudaraan dalam Islam dirasakannya seperti ikan yang mendapatkan airnya kembali. Begitupun pertemanannya dengan Khalid walau terbilang singkat tapi dirasakannya begitu akrab.

Sejarah mencatat bahwa Gregorius Teodorus adalah seorang muslim yang sepanjang hayatnya dapat merasakan manisnya iman dan jihad sekaligus yaitu saat detik-detik dua kalimat syahadat diikrarkan. Dan seperti mendapat pasokan energi yang besar, Gregorius langsung berbalik memerangi pasukannya sendiri dengan semangat jihad.

http://www.dakwatuna.com/2008/jirri-tudur-syuhada-bumi-yarmuk/

Ditulis dalam Suplemen, Tokoh Islam | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Sedekah … Siapa Takut

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juli 23, 2008

Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Hallo adik-adik yang manis, apa kabar …. ? Semoga kalian semua berada di dalam lindungan Allah swt (Amiiin ). Bagaimana, apakah kalian siap untuk mendengarkan materi kali ini ? Jika belum maka kalian harus lebih dahulu mempersiapkan hati, pikiran dan jiwa kalian agar dapat berkonsentrasi pada materi kali ini. Ok ! Sudah siap??!
Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya pantas kita panjatkan kehadirat Illahi Rabbi, yang telah memberikan kepada kita semua rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita ke majelis yang dipenuhi oleh para malaikat-malaikat Allah, yang berdoa untuk kebaikan kita. Tak lupa shalawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita, suri teladan kita Nabi Besar Muhammad saw serta para sahabatnya dan orang-orang yang selalu senantiasa berada di jalan-Nya. Untuk memulai alangkah baiknya kita bersama-sama membaca Basmallah. Bismillahirahmannirahim.
Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu hal yang akan nemenin kita kalo kita udah di liang kubur, yaitu sedekah jahriyah.
Adik-adik tahu ‘nggak kalau Islam itu mengajarkan kita supaya menyayangi sesama. Terutama si kaya supaya memperhatikan nasib si miskin. Nah realisasinya yang konkrit yaitu dengan membayar zakat dan sedekah. Sebenarnya zakat dan sedekah ini memiliki makna yang sama, yaitu penyantunan. Bedanya itu, zakat adalah kewajiban yang harus dibayar dalam satu tahun, sedangkan sedekah yaitu bantuan yang diberikan oleh siapa saja, kapan saja, berapa saja, tergantung dengan kemampuan orang tersebut.
Bersedekah itu didalam Islam sangat dianjurkan, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya: “Bersedekahlah kamu, karena sedekah dapat membebaskan kamu dari api neraka “. (HR. Ath Thabrani).
“Barangsiapa yang diminta dengan ridho Allah lalu dia memberi, maka dituliskan baginya 70 kebaikan.” (HR. Ibnu Addiy dari Jabir)

Subhanallah yach, dengan bersedekah bisa membebaskan kita dari api neraka. Tentunya sedekah itu harus disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas Lillahi ta’ala., agar sedekah kita tidak sia-sia. Ada beberapa kisah tentang sedekah pada zaman Rasulullah.
1.   Banyak cara bersedekah
Abu Dzar ra mengatakan, beberapa orang sahabat Nabi Muhammad saw pernah bertanya kepada beliau, “Kaum hartawan dapat memperoleh harta yang lebih banyak, mereka shalat seperti kami shalat. Mereka puasa seperti kami berpuasa, dan dapat bersedekah dengan sisa harta mereka”.
Mendengar keluhan para sahabat, Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah swt telah memberi berbagai macam cara untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah. Setiap kalimat takbir adalah sedekah. Setiap kalimat tahmid adalah sedekah. Setiap kalimat tahlil adalah sedekah. Mengajak kepada kebaikan dan melarang kejahatan (amar ma’ruf dan nahi munkar) adalah sedekah”.
Wah ternyata sedekah itu tidak sulit yach, sedekah itu tidak memberatkan kita sama sekali. Jadi kita tidak perlu mengeluh jika tidak punya sesuatu untuk disedekahkan, karena setiap amal yang baik dan berguna juga tidak sulit dilakukan oleh kita. Semua hal baik bisa menjadi sedekah.
2.   Sedekah tidak mengurangi kekayaan
Abu Hurairah ra, memberitahukan, bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman kepadaku, berinfaklah kamu maka Aku akan berinfak kepadamu”. Selanjutnya Rasullah saw bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam”. Pernahkah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang dinafkahkan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ditangan Allah tidak akan berkurang karenanya Arsyinya diatas air, sedangkan ditangannya yang lain maut yang selalu naik turun (HR. Muslim)
3.   Sedekah membuka pintu surga
Pada zaman Nabi Isa, tersebutlah seseorang dengan julukan Mal`um yang terkenal dengan kikirnya. Suatu hari datanglah kepadanya pejuang yang akan pergi perang.”Berilah aku senjata untuk berperang demi keselamatanmu dari api neraka”, ujar sang pejuang.
Mal’um tidak memperhatikan permintaan tersebut. Setelah pejuang itu pergi, pejuang itu bertemu dengan Nabi Isa bersama seorang Abid (ahli ibadah selama 70 tahun). “Hai, pejuang”, tegur Nabi Isa as. “Dari mana kau dapatkan pedang itu?” “Dari Mal’um”, jawabnya.
Nabi Isa gembira mendengarnya, bertepatan dengan itu Mal`um sedang duduk di depan pintu rumahnya. Seketika ia berdiri menyambut Nabi Isa bersama Abid itu.
“Aku akan segera pergi (menjauhinya) sebelum terbakar dengan api”, kata si Abid. Saat itu turunlah wahyu, “Hai Isa katakanlah kapada hambaku (Mal’um) bahwa aku sudah mengampuni dosanya karena sedekah pedangnya itu dan karena dia senang kepadamu. Juga sampaikan kepada Abid tersebut bahwa dia adalah kawanmu kelak di surga”. Mendengar berita dari Nabi Isa, si Abid menjawab, “Aku tidak rela berkawan dia di surga “. Lalu turun wahyu, “Hai Isa, katakan kepada Abid itu karena dia tidak rela atas keputusan-Ku dan menghina orang, maka mulai saat ini kujadikan dia penghuni neraka kelak. Dan orang yang semula disebut Mal’um (orang yang sangat kikir) kini menggantikan tempat si Abid di surga kelak”
4.    Sedekah mendatangkan berkah
Suatu saat, sepulang dari rumah Rasulullah saw, Ali menemui Fatimah istrinya “Wahai wanita mulia, apakah kamu punya makanan untuk suamimu?”.”Demi Allah aku tidak punya sesuatu”, jawab Fatimah. “Ini ada enam dirham dari Salman ketika aku memintal. Akan kubelikan makanan untuk Hasan dan Husein. “Biar aku saja yang beli, mana uang itu ?”. Fatimah segera menyerahkan enam dirham kepada Ali, sesaat kemudian Ali kembali untuk membeli makanan. Di tengah jalan, Ali bertemu seorang laki-laki yang mengatakan, “Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan selalu menepati janji?” Tanpa berfikir panjang Ali menyerahkan uangnya yang enam dirham kepada laki-laki itu lalu ia pulang dengan tangan hampa Fatimah yang mengetahui hal ini hanya menangis.
” Wahai wanita mulia kenapa menangis?”
“Wahai Ali, engkau pulang tanpa membawa sesuatu?”
“Wanita mulia aku telah meminjamkannya kepada Allah.”
“Kalau begitu, sunguh aku mendukung perbuatanmu”.
Ali kemudian keluar rumah lagi, berniat menemui Rasulullah saw. Di tengah jalan ia dihampiri seorang Badui yang menuntun seekor unta. “Hai Abu Hasan, belilah unta ini”.
“Aku tidak punya uang ” jawab Ali
“Engkau bisa membayarnya kapan saja”.
“Berapa?”. Tanya Ali berminat
“Tidak mahal, 100 dirham”.
“Baiklah aku beli”, kata Ali yang kemudian melanjutkan perjalannya sambil menuntun unta. Baru beberapa langkah ia berjalan kaki seorang Badui lain menghampirinya.
“Hai Abu Hasan”, tegur badui itu. “Apakah unta ini engkau jual?”
“Ya”
“Berapa?”
“300 dirham”.
“Baiklah aku beli”, Badui itu mengambil alih tali unta dan membayarnya kontan 300 dirham. Selanjutnya Ali segera pulang mengabarkan peristiwa yang baru dialaminya kepada Fatimah.
“Apakah yang kau bawa itu, wahai Abu Hasan?”sambut Fatimah.
“Wahai putri Rasul, kubayarkan unta dengan lain waktu seharga 100 dirham lalu kujual unta itu 300 dirham kontan”.
“Aku setuju”, komentar Fatimah.
Selanjutnya Ali segera menemui Nabi Muhammad di Mesjid. Melihat Ali memasuki Mesjid, Rasulullah tersenyum.
“Abu Hasan, tahukah engkau, siapa Badui yang menjual unta dan Badui yang membeli unta tadi?”tanya Rasulullah saw.
“Tidak”, Ali menggeleng .”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”.
“Berbahagialah kamu. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Allah memberimu 300 dirham tiap satu dirham,” papar Rasulullah saw. Selanjutnya beliau menceritakan, “Badui yang pertama menemuimu itu ialah Jibril dan yang terakhir Mikail”.
Nah, setelah mengetahui kisah-kisah ini, semoga kita tergugah untuk memperhatikan nasib sesama. Serta membantu saudara-saudara kita seiman yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Sebab siapa lagi yang sudi mengulurkan tangan kepada meraka kalau bukan kita? Dan semua itu hendaklah kita lakukan semata mata untuk menyempurnakan iman kita kepada Allah swt. Tul ‘nggak……!
Wassalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
By Anonim Bogoriense

Ditulis dalam Junior Mentoring Islam | Bertanda: , | 1 Komentar »

Rasulullah Idolaku

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juli 23, 2008

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tahu gak siapa Muhammad itu? Yang jelas Muhammad yang ini pasti bukan tukang cendol di depan sekolah atau tukang sol sepatu yang ngider di kompleks rumah kamu. Muhammad yang ini adalah Rasul dan Nabi kita, yang udah Allah jadiin sebagai suri teladan buat seluruh manusia, termasuk kamu!!! Muhammad tuh bukan Malaikat, apalagi hanya seorang Songoku. Yang jelas, beliau itu cuma manusia biasa, bedanya beliau itu utusan Allah (Nabi) yang panggilannya ‘Rasulullah’.
Kata para sahabat, Rasul itu lebih indah dari bulan purnama dan jalannya itu cepet!! Bahkan ada sahabat yang sampe kecape’an ngikutin jalannya Rasul, padahal Rasulullah sendiri masih tenang-tenang aza saat itu, cuman cepetnya beliau itu bukannya cepet yang terburu-buru kayak ada yang ngejar.
Nah, kan ada pepatah yang bilang bahwa tak kenal maka tak sayang. Sekarang kita simak sekelumit sifat-sifat beliau, cuman sekelumit looh! Kalo semuanya bisa-bisa mentoringnya seharian atau mungkin ratusan… (leebih!!!) O..k deh, kita mulai aza supaya cepet bisa kita contoh dan terapin.
Sifat Rasul yang pertama adalah :

A. Kesabaran

Waktu perang Uhud (tau khan perang Uhud yang mana?) ada cerita, kaya’ gini ceritanya.
Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah berada di antara tujuh orang Anshar dan dua orang Muhajirin pada waktu perang Uhud. Orang-orang musyrik menekan sampai mendekati Nabi. Salah satu di antara mereka melemparkan sebuah batu yang menimpuk hidung dan gigi serta melukai wajah beliau. Darah segar berleleran dari luka-luka itu. Orang musyrik yang menimpuk beliau berkoar-koar bahwa Rasulullah sudah terbunuh. Orang-orang Islam menjadi kacau-balau. Sebagian ada yang kembali ke Madinah. Sisa orang yang berjaga di atas bukit berbaur dengan para sahabat. Mereka tidak tahu apa yang mesti mereka lakukan.
Rasulullah segera mencabut anak panah dari sarungnya lalu diberikan kepada Sa’ad bin Abi Waqash seraya berkata, “Dengan tebusan ayah dan ibuku, tembaklah!” Abu Thalhah Al-Anshary yang berperang di samping Rasulullah SAW adalah seorang penembah jitu. Setiap ia menembakkan anak panah, beliau memandang ke mana anak panah itu mencari mangsa.
Pada situasi yang kritis seperti ini, ada sebagian orang-orang Islam (dari kelompok munafiqin) yang lari menghindar. Sehingga yang bersama Rasulullah tinggal beberapa orang dalam jumlah yang kecil. Beliau tetap sabar dan memimpin pasukannya menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar, yaitu sebanyak 3000 personil.
Kenyataannya, Rasulullah tidak kalah. Dengan mengerahkan segenap keberanian, beliau dan orang-orang Islam tetap terus bangkit. Hingga akhirnya orang-orang musyrik baru menyadari bahwa kerugian mereka lebih besar daripada keuntungan yang diimpikan. Kesabaran macam apakah ini?
Perlu pula ditambahkan bahwa orang-orang musyrik yang mengumumkan kematian beliau, berkoar-koar ke sana ke mari. Beliau tidak tahu persis siapa yang berbuat seperti itu. Itulah gambaran kesabaran dalam menghadapi suasana kritis, dan tidak membuat pelakunya melalaikan tanggung jawab.
Coba bayangin, Rasulullah waktu itu kan udah luka-luka tuh… pasukannya juga udah ‘gak imbang lagi lawan jumlah tentara musuh. Kalo diibaratin maen bola mungkin keadaannya kayak 11 orang vs 5 orang kali (ka..li???! bener lagi…) Bayangin deh kalo maen bola posisi kita kayak gitu banyak yang kena kartu merah, bisa-bisa nangis deh (kalo gak nyerah itu juga…). But what had happen back then, Rasulullah tetap istiqamah, sampe Allah menentukan. Maka begitu pula kita… kita harus sabaran, jangan cepet marah kalo lagi emosi, jangan cepet putus asa kalo ngadepin kesulitan, pokoknya sabar deh… asal jangan sabar terus tapi gak pernah berusaha, itu mah dodol!!!

Terus sifat beliau yang kedua adalah :

B. Kasih sayang

Setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang dilancarkan kaum Quraisy, Rasulullah berangkat ke Tha’if, mencari dukungan dan perlindungan dari Bani Tsaqif, dan mengharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah. Setibanya di Tha’if, beliau menuju tempat para pemuka Bani Tsaqif, sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah. Beliau berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Tapi ajakan beliau itu ditolak mentah-mentah dan dijawab secara kasar. Kemudian Rasulullah bangkit meninggalkan mereka seraya mengharap supaya mereka menyembunyikan kedatangan ini dari kaum Quraisy, tetapi mereka pun menolaknya.
Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melemparinya dengan batu sehingga mengakibatkan cedera pada kedua kaki Rasulullah. Zaid bin Haritsah berusaha keras melindungi beliau, tetapi kewalahan, sehingga ia sendiri terluka pada kepalanya. Rasulullah kembali dengan perasaan tidak menentu sehingga baru tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya, dan tiba-tiba melihat awan menaunginya. Kemudian beliau pandang dan tiba-tiba muncul Jibril, memanggilnya seraya berkata “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Kemudian malaikat penjaga gunung memanggil Rasulullah dan mengucapkan salam kepadanya, lalu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu; jika engkau suka aku bisa membalikkan gunung.Akhsyabin di atas mereka.” Rasulullah menjawab, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Bisa bayangin ‘gak, ada orang yang ditimpukin ama batu sampe berdarah-darah, malah ngedoain kebaikan buat orang nimpukin.!!? (bisa ‘gak ngebayanginnya…). Padahal waktu itu Malaikat Jibril udah nawarin jasanya buat ngegencet orang-orang Tha’if pake gunung!! Tinggal minta doang…, tapi itulah kasih sayang Rasulullah, bahkan sama orang-orang jahat sekalipun beliau masih menunjukkannya. Dan ternyata apa yang dido’akan Rasulullah terwujud, dengan banyaknya para pembela Islam dilahirkan di Tha’if.

And the third is…

C. Kelembutan

Salah satu sifat Rasulullah adalah… sifatnya yang lembut, tapi lembutnya bukan yang lemah gemulai. K’lo itu mah penari kali yah… Nah, ada cerita lagi mengenai gimana sih lembutnya Rasulullah. Gini nih ceritanya…
Ahmad meriwayatkan dari Aisyah R.A., ia berkata, “Satu kali pun Rasulullah tidak pernah memukul pembantu dengan tangannya, tidak pula memukul wanita dengan tangannya kecuali untuk berjihad di jalan Allah. Tidak ada yang lebih baik antara dua hal kecuali yang paling disenanginya melainkan yang paling mudah. Kalau menjadi perbuatan dosa, maka beliau adalah yang paling jauh dari perbuatan dosa. Beliau juga tidak mendendam untuk dirinya dari sesuatu yang diberikan kepadanya sehingga melanggar larangan-larangan Allah. Kalaupun mendendam hanya karena Allah semata. Abu Nu’aim meriwayatkan dari Aisyah R.A., ia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah sedang bersama para sahabat. Aku membuat makanan untuknya, begitu pula Hafsah. Namun Hafsah lebih terampil dariku, sehingga ia lebih cepat selesai dariku. Aku berkata kepada budak perempuan, “Segeralah kau pergi, dan tumpahkan mangkuk Hafsah!”
Ketika Hafsah hendak meletakkan mangkuknya di tangan Rasul, budak yang kusuruh segera menumpahkan mangkuk sehingga makanan di dalamnya berserakan di tanah. Beliau mengumpulkan makanan yang berserakan di tanah, lalu mereka pun memakan bersama. Aku bangkit menyodorkan mangkukku, lalu disodorkan Nabi kepada Hafsah seraya berkata, “Ambillah satu bejana untuk digantikan dengan bejanamu, lalu makanlah apa yang ada di dalamnya.”
“Aku tidak melihat sesuatu yang ganjil di wajah Rasulullah karena peristiwa ini.”
Nah itulah kelembutan Rasulullah, bayangin seorang majikan yang ‘gak pernah mukul pembantunya, seorang pemimpin yang tidak mendendam untuk dirinya, seorang suami yang baek bener sama istrinya.

Yang keempat adalah…

D. Kedermawanan

Rasulullah adalah seorang dermawan. Bahkan dalam catatan sejarah, beliau tidak pernah nolak ketika dimintain sesuatu. Ada juga ceritanya, gini nih ceritanya…
Ahmad meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah tidak pernah menolak suatu permintaan yang atas dasar Islam. Ia berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada beliau lalu meminta untuk memberikan sekumpulan domba yang sangat banyak jumlahnya yang memenuhi dua bukit dari domba-domba shadaqah. Orang itu kembali kepada kaumnya lalu berkata kepada mereka, “Wahai kaumku, masuklah Islam! Sesungguhnya Muhammad memberi suatu pemberian dan tidak takut miskin.”
Kita bisa melihat bagaimana dermawannya Rasulullah dan beliau tidak takut akan miskin, seandainya bila Rasul mau, beliau dapat minta kepada Allah agar diberikan harta yang banyak, dan pasti akan dikabulkan oleh Allah. Tetapi Rasul lebih menyukai kesederhanaan, dan dapat merasakan penderitaan orang-orang yang tidak mampu.

Dan yang kelima ialah :

E. Kerendahan Hati

Beliau ‘gak pernah sombong, bahkan sama orang yang musuhin dia sekalipun, walaupun ia seorang Nabi. Ada cerita kayak gini… Ady bin Hatim, seorang pemimpin kabilah yang beragama Nashrani bercerita ketika akan menghadap Rasulullah, ia menggambarkan akan bertemu dengan seorang raja di Madinah, ia menuturkan :
“Aku menemui Muhammad yang saat itu sedang berada dalam mesjid. Setelah kuucapkan salam, beliau bertanya, “Siapa?” “Ady bin Hatim,” jawabku. Beliau bangun dan mengajakku ke rumahnya. Demi Allah, aku benar-benar dibuatnya tercengang. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan seorang wanita yang sudah tua dan lemah. Wanita itu memintanya berhenti. Maka beliau pun berhenti cukup lama menanyakan keperluannya.
“Demi Allah, ini bukan layaknya seorang raja,” kataku dalam hati. Rasulullah membawaku berjalan dan ketika sudah masuk ke rumahnya, beliau menyodorkan sebuah bantal dari kulit yang diisi kapas. Beliau memberikannya kepadaku seraya bersabda,
“Duduklah di atas bantal ini!”
“Engkau saja yang duduk di atasnya,” kataku.
“Engkau saja,” sabda beliau.
Maka aku pun duduk di atas bantal, sedangkan beliau duduk di atas tanah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, ini bukan layaknya seorang raja.”
Itulah karakteristik Muhammad SAW, tanpa embel-embel. Ady bin Hatim datang kepada beliau, dan di antara keluarganya sebelum itu menjadi tawanan pasukan tentara Islam. Ia datang kepada beliau sebagai orang yang kalah. Namun ia didudukkan di atas bantal, sementara beliau sendiri duduk di atas tanah.


Sampai di sini dulu ya .. adik-adik! Kita insya Allah ketemu lagi di pertemuan selanjutnya…

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ditulis dalam Junior Mentoring Islam | Bertanda: , | Leave a Comment »

Mus’ab Bin Umair

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juli 23, 2008

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Si Tampan Yang Manja
Dia salah satu sahabat Rasulullah. Usianya masih sangat muda. Pada mulanya dia anak seorang yang saaa…angat kaya. Pakaiannya bagus dan potongan rambutnya tertata rapi. Dia juga sangat terkenal kerena memiliki wajah yang saa…angat tampan. Siapakah pemuda tampan ini? (tanya). Ya benar pemuda ini bernama Mush`ab bin Umair.
Dia mendengar perihal Nabi Muhammad saw. Saat itu dia bersama orang tuanya adalah penganut agama jahiliyah, penyembah berhala. Dia mendengar Nabi Muhammad saw mengajarkan agama yang berbeda dengan agama orang Mekah umumnya. Seperti apa gerangan agama itu? Mush`ab sangat penasaran lalu diselidikinya apa gerangan Islam itu? Apa Islam lebih baik dari agama jahiliyah?
Dia bertanya kepada beberapa orang tentang Nabi Muhammad saw. Saat itu Nabi melakukan dakwah agamanya dengan diam-diam untuk menghindari kaum musyrikin yang memusuhinya. “Muhammad sering pergi ke Bukit Shafa”, kata seorang temannya. “Ke Bukit Shafa? Di mana tepatnya?” tanya Mush`ab. “Aku tidak tahu”.
Mush`ab harus melakukan penyelidikan lagi. Dia pergi ke Bukit Shafa untuk mengintai. Dia melihat Nabi memasuki rumah Al Arqam bin Al Arqam. “Itu dia!” seru Mush`ab gembira. “Aku mau ikut ke sana!”
Mush`ab pemuda yang cerdas. Karena itu dia tahu Nabi melakukan dakwahnya secara diam-diam. Semuanya dilakukan dengan sangat rahasia. Mush`ab pun menoleh ke sana kemari. Melihat kalau-kalau ada orang. Ketika dia yakin tidak ada orang yang melihatnya, dia bergegas menuju ke rumah Al Arqam bin Al Arqam.
Ayat-ayat suci Al Quran terdengar dari dalam rumah itu. Diucapkan oleh Nabi Muhammad saw. Mush`ab memasuki rumah itu lalu duduk terpaku mendengar alunan ayat-ayat suci. Inikah ajaran Islam itu? Bergetar dada Mush`ab. Ayat-ayat suci yang dibacakan oleh Nabi telah mengguncangkan jiwanya. Tercetus dalam hatinya, niatan beriman kepada Rasulullah.
Itulah awalnya Mush`ab bin Umair masuk Islam. Selanjutnya dia selalu datang ke tempat itu. Tentu saja dilakukan diam-diam. Dia belajar langsung kepada Nabi utusan Allah. Kecerdasan otaknya membuatnya bisa dengan cepat memahami ajaran-ajaran yang diterimanya.
Pada suatu hari, ketika matahari sudah condong ke Barat. Mush`ab sedang menuju ke rumah Al Arqam bin Al Arqam. Ia merasa tidak ada orang yang melihatnya, tetapi sebenarnya ada seorang lelaki mengintainya.
“Apa yang dilakukan anak Umair itu?” tanya Usman bin Thalhah dalam hatinya. Usman mendekat dan mengintai. Ia menyaksikan Mush`ab sedang shalat bersama Nabi Muhammad saw. “Terkutuklah anak Umair!” dengus Usman, “Dia menghianati agama orang tuanya sendiri, agama kaumnya!”
Usman marah besar. Orang-orang musyrik dan kafir seperti dia pasti akan marah besar menyaksikan kaumnya menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Lalu karena marahnya Usman melaporkan hal itu kapada Khunas binti Malik, ibu dari Mus`ab bin Umair. Tentu saja Khunas marah mendengar berita itu. Selain itu Khunas merasa terpukul karena Mus`ab adalah anak yang sangat dimanjakan. Tak bisa dikatakan lagi tentang sayangnya kepada Mush`ab. Dia mengharapkan kelak anaknya itu menjadi penerusnya, juga penerus agamanya, agama nenek moyangnya. Kini tiba-tiba dia menjadi pengikut Muhammad yang mengaku sebagai Nabi itu.
Ketika Mush`ab sampai di rumahnya di sana banyak berkumpul orang-orang Mekah yang cukup terpandang. Khunas menegur anaknya, “Apa yang kau lakukan di luar rumah ini anakku?” Tak lama kemudian Mush`ab sadar, ibunya telah tahu apa yang dilakukannya selama ini. Percuma ia membantah, tak akan ada yang mempercayainya. Pasti sudah ada mata-mata ibunya yang menyaksikannya di rumah Al Arqam bin Al Arqam. Entah siapa, Mush`ab tidak tahu. Tetapi pasti salah seorang diantara orang-orang yang berkumpul itu.
“Aku telah menganut agama Islam,” kata Mush`ab berterus terang. Bagai disambar petir di siang bolong, Khunas binti Malik mendengar pengakuan anaknya. Anaknya telah menjadi penganut aliran sesat, agama ajaran Muhammad!
“Kau telah diracuni ajaran sesat!” jerit Khunas. “Allah Maha Besar! Dalam hatiku telah bersemayam iman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya”. Mush`ab lalu membacakan ayat-ayat suci Al Quran yng diajarkan oleh Nabi. Sesaat orang-orang terpana mendengarnya. Tetapi kekafiran mereka segera menolak kebenaran ajaran itu.
Khunas semakin marah dan ia segera menyuruh para pengawalnya untuk memenjarakan Mush`ab. Itulah nasib yang harus dialami Mush`ab. Ujian bagi keimanannya telah dimulai. Ia terkucil di situ. Orang-orang suruhan ibunya menjaga siang malam. Dia diberi makan dan minum sekadarnya. Khunas berharap anaknya sadar karena penderitan itu. Mau meninggalkan ajaran Muhammad dan kembali menyembah Al Latta dan Al Uzza (nama-nama berhala yang mereka sembah).
Tetapi bisakah iman dihati Mush`ab terkikis karena penderitaannya itu? (baca QS 2:2-3) Ajaran-ajarn itulah yang telah melekat dalam hati Mush`ab. Maka sekalipun ia harus menderita dalam penjara buatan ibunya sendiri, ia pantang menyerah.

Jubah Usang Penuh Tambalan
Berbulan-bulan lamanya Mush`ab terpenjara. Terputus hubungan dengan kaum muslimin di luar sana. Mush`ab terus-menerus mencari akal untuk melarikan diri. Dia berlagak tak berdaya dihadapan para penjaganya. Tetapi sebenarnya dia terus berusaha bagaimana bisa meloloskan diri dari penjara itu.
Kesempatan itu tiba. Dia lari sejauh-jauhnya bergabung dengan orang muslimin yang akan pergi ke Habasyah dan bersembunyi. Tak lama setelah kembali ke Mekah, Mush`ab diketahui oleh –orang-orang ibunya. Orang-orang itu melapor kepada Khunas binti Malik. “Bawa kembali dan kurung dia!” seru Khunas. Tetapi apa yang terjadi? Sekali ini Mush`ab melawan. “Aku bersumpah akan membunuh siapa saja yang akan mengembalikanku ke penjara ibuku!” seru Mush`ab. Dia bersungguh-sungguh. Orang-orang suruhan Khunas pun tidak berani mendekatinya.
Khunas sangat kecewa, tapi kasih sayang ibu tidak dapat begitu saja lenyap. Maka ditemuinya anaknya itu. “Anakku”, panggilnya lembut, “Telah banyak kesalahanmu kepada ibu. Telah berulang kali kau mengecewakan dan melukai hati ibu, tetapi biarlah ibu memaafkan semua kesalahanmu”.
Terharu juga hati Mush`ab mendengarnya. Bagaimanapun dia sayang kepada ibunya. “Terima kasih ibu,” bisik Mush`ab dengan air mata bercucuran, “Tetapi aku tetap pada keimanku. Ibu tidak bisa mengubahnya sedikit pun”.
“Lihatlah keadaanmu itu. Pakaianmu compang-caping, tubuhmu kotor, hidupmu terlunta-lunta tak karuan. Semua itu karena kesesatanmu. Kembalilah kepada ibu, kepada keluargamu, kepada agamamu”.
“Hanya Islam agamaku”, tegas Mush`ab.
“Jangan ucapkan itu!”
“Aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah!”
“Terkutuk!” seru Khunas dengan kalapnya, “Pergilah sesukamu! Pergilah menjadi gelandangan miskin! Sejak saat ini kau bukan lagi anakku!”
Betapa perih hati Mush`ab. Siapa tak perih harus kehilangan ibu dengan cara begitu. Mush`ab pergi membawa luka hatinya. Allah telah menutup hati dan pendengar Khunas binti Malik. Dan azab Tuhanlah baginya (QS 2:7). Berbulan-bulan kemudian Mush`ab pun hilang dari pembicaraan orang. Tak ada yang tahu dia ke mana. Ibunya pun tak mau tahu lagi tentang anaknya yang sesat menurut pandangannya ini.
Pada suatu hari, kaum muslimin sedang berkumpul bersama Nabi Muhammad saw. Mereka duduk di sekeliling Nabi. Ada seseorang lelaki datang bersalam. Kaum muslimin serentak menjawab salam itu. Tetapi siapakah yang bersalam?
Lelaki yang bersalam itu berambut kusut. Warna rambut itu kelabu. Tubuhnya kotor penuh debu. Pakaiannya hanya selembar jubah usang yang penuh tambalan di sana-sini. Dia tampak sangat miskin, lapar dan barangkali dia gelandangan.
Tetapi suaranya masih dikenal kaum muslimin. Hanya suaranya. Wujudnya telah berubah sedemikian rupa sehingga orang tidak mengenalinya lagi. Itulah Mush`ab bin Umair sekarang. Telah hidup terlunta-lunta. Anak manja yang biasa hidup berkecukupan, tak kurang apapun. Kini menjelma menjadi lelaki kumal seperti itu.
Meneteslah air mata beberapa orang yang menyaksikan penampilan Mush`ab. Beberapa orang berdiri dan merangkul Mush`ab. Nabi memandangi Mush`ab sesaat. Lalu bersabda, “Dulu saya lihat Mush`ab ini tidak ada yang mendinginya dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.
Tetapi Mush`ab tidak merasa sedih. Justru ia sangat gembira karena bisa berkumpul dengan saudara-saudaranya sesama muslim dan bersama Nabi pilihan Allah yang diimaninya.

Pembawa Bendera Muslimin
Setelah Mush`ab dipilih oleh Rasulullah menjadi duta Islam di Madinah. Semakin banyak pengikut Islam di Madinah. Beberapa tahun kemudian Rasulullah dan para sahabat serta pengikutnya berhijrah dari Mekah ke Madinah. Kaum Muhajirin (orang-orang Islam yang Hijrah) dan kaum Anshar (umat Islam di Madinah) bersama-sma menjadi keluarga besar muslim. Mereka bersatu dalam menghadapi kaum musyrikin Quraisy yang menyerang mereka.
Pada suatu saat tibalah masa untuk berjihad bagi mereka dalam perang Uhud. Seluruh strategi telah disusun oleh Rasulullah sebagai panglima perang pada waktu itu. Perang ini sungguh seru karena kekuatan kaum muslimin yang hanya 600 orang harus melawan pasukan kuda yang terlatih dengan jumlah 3000 orang.
Ketika perang berlangsung pada awalnya perang itu dikuasai oleh kaum muslimin, namun karena kelengahan dari para prajurit, maka kaum muslimin pada waktu itu terkepung. Sebagian besar prajurit pada waktu itu terpaksa melindungi Nabi Muhammad saw.
Dengan otak yang cerdas Mush`ab yang pada waktu itu memegang bendera muslimin di barisan depan berpikir dengan cepat. Kemudian beliau berlari ke tempat yang berlawanan arah dengan Nabi Muhammad dengan maksud menarik perhatian lawan. Mush`ab pada waktu itu berhasil menarik perhatian lawan, sehingga hampir semua lawan menuju ke arahnya.
Namun apalah daya Mush`ab. Seorang diri menghadapi musuh sebanyak itu. Datang seorang berkuda menghadapinya, orang itu kemudian mengayungkan pedangnya dan membabat tangan Mush`ab yang memegang bendera. Bendera itu jatuh namun Mush`ab berusaha memegang bendera dengan tangan sebelahnya. Kemudian tangan yang memegang bendera itu pun ditebas oleh lawan. Namun Mush`ab tidak menyerah beliau memegang bendera itu dengn kedua tangannya yang buntung dan berlumuran darah. Diambilnya bendera itu sambil membungkuk.
Mush`ab terus mengamuk dan mengucapkan kalimat tauhid secara berulang-ulang hingga tombak musuh menghujam di seluruh tubuhnya. Gugurlah ia sebagai pahlawan Islam yng membela nabinya dengan sepenuh jiwa raganya.
Ketika perang usai, Nabi meninjau bekas medan laga itu. Betapa pilu hati Nabi ketika melihat jenazah Mush`ab bin Umair. Kemudian beliau menyuruh menutupi jenazah itu dengan selembar kain burdah. Kain itu ditutupkan, tetapi tidak cukup. Bila ditutupkan ke kakinya maka kepalanya tidak tertutup. Bila ditutupkan ke kepalanya maka kakinya kelihatan. Karena tidak cukup maka Nabi menyuruh untuk menutupi kakinya dengan rumput Idzkhir.
Sabda Rasulullah saw, “Ketika Mekah dulu, tak seorangpun ku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada Mush’ab bin Umair. Kini rambutnya kusut masai, hanya tertutup sehelai kain burdah…”

Ibroh:

1. Ketampanan/kecantikan, harta dan jiwa raga yang tidak ada artinya disisi Allah. Karena semua itu bukan milik kita tapi milik Allah. Yang dinilai oleh Allah hanyalah keimana yang kita miliki.
2. Berbakti kepada orang tua memang diwajibkan oleh Allah. Tetapi dalam hal keimanan dan aqidah kita tidak boleh melanggar perintah Allah.
3. Setiap Mukmin pasti akan diuji oleh Allah di dunia ini, untuk melihat sejauh mana kecintaannya kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya.
4. Setiap muslim yang mencintai Allah dan Rasul-Nya berani untuk mengorbankan segala yang dimilikinya termasuk jiwanya sekalipun.


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ditulis dalam Junior Mentoring Islam | Bertanda: , | Leave a Comment »

Merenda Ukhuwah di Awal Sekolah

Ditulis oleh Ruswandi di/pada Juli 23, 2008

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Adik-adik gimana khabarnya…?? Mudah-mudahan baik-baik aza. Adik-adik…hari-hari kita di sekolah / di rumah pasti lebih asyik kalo punya sahabat. Bisa bagi-bagi cerita (curhat), bisa maen bareng, bisa belajar bareng, bisa pinjem uang kalo ongkos kita ketinggalan, pokoknya asyik deh. Tapi ngomong-ngomong… sebenernya orang kayak gimana sih yang boleh kita jadikan sahabat. Hanya yang rangking 1 ? Hanya orang kaya? Hanya yang cakep aja?? Yah nggak dong..orang yang pantas kita jadikan sahabat adalah yang baik akhlaqnya yaitu orang-orang beriman, sebab dalam Al-Qur’an di surat Al-Hujuraat ayat 10 :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Jadi bukan orang yang kaya saja, bukan orang yang cantik saja, bukan orang yang rangking satu aja tapi yang pasti adalah orang-orang yang berakhlaq baik. Dulu pernah Abu Dzar dan Bilal (kulit hitam) memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. Karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata, “Hai anak (si kulit) hitam!!!” Seketika Nabi saw. menegurnya “Hentikan segerra, hentikan segera…! Sekali-kali tidak ada kelebihannya satu dengan yang lainnya bagi si kulit hitam kecuali dengan amal shaleh.”
Abu Dzar baru sadar setelah kemarahan Nabi saw., ia menyesali perbuatannya dan meletakkan pipinya di atas tanah seraya berkata kepada Bilal, “Bangunlah…maka tempelenglah pipiku.”
Pernah juga suatu hari Suhail bin Amru, Harits bin Hisyam, Abu Shofyan bin Harb dan pembesar-pembesar Quraisy telah berdiri di depan pintu Umar bin Khothob, tetapi..Umar lebih suka mempersilahkan tamu lainnya yaitu Shuhaib Ar-Rumi dan Bilal Al-Habsy yang keduanya adalah tergolong fakir miskin untuk terlebih dahulu diizinkan masuk ke dalam rumahnya.
Nah gitu adik-adik..ternyata dalam agama kita tidak ada perbedaan antara yang miskin dan kaya, yang kulit hitam dan kulit putih. Jika orang miskin dan kulit hitam itu beriman kepada Allah maka ia layak kita jadikan sahabat seperti saudara kita sendiri. Persaudaraan seperti itu namanya ukhuwah islamiyah, apa namanya adik-adik…? Ukhuwah..isla..miyah!!!
Selain dengan tidak membeda-bedakan manusia, kita pun harus mau tolong menolong dengan muslim yang lainnya. Dengan begitu ukhuwah islamiyah kita semakin kuat. Tapi harus diingat, tolong menolongnya dalam kebaikan. Kalau nolongin temen waktu ulangan boleh enggak???
Dulu juga sahabat-sahabat Rasul saw. saling membantu sekalipun baru sekali ketemu, contohnya waktu kaum Muhajirin tiba di Madinah maka Rasulullah saw. segera mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Ketika itu Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Aku termasuk orang Anshar yang banyak kekayaan dan kekayaanku akan kubagi dua. Setengahnya untuk anda dan setengahnya untukkuk. Aku juga punya dua orang istreri, lihatlah mana yang anda suka, sebutkan namanya, maka akan segera kuceraikan dan setelah usai masa iddahnya anda kupersilahkan menikah dengannya.” Subhanallah…hebat banget ya Sa’ad bin Ar-Rabi’ !!! Beliau rela memberikan kekayaan dan isterinya kepada Abdurrahman semata-mata karena menganggap Abdurrahman sebagai saudaranya sendiri. Lalu Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaan anda. Tunjukkan saja kepadaku letak pasar di kota anda ?”
Nah bantuan yang kita berikan kepada sahabat kita tentunya harus ikhlas, jujur dan bukan tipuan. Juga kita harus menemaninya dengan akrab tanpa mempermasalahkan cacatnya, kekayaannya, wajahnya atau yang lainnya. Seperti cerita Masruq dan Khaitsamah. Diriwayatkan Masruq dalam keadaan sulit karena harus membayar hutang dan Khaitsamah juga mempunyai hutang. Maka pergilah Masruq dengan maksud hendak membayar hutang Khaitsamah sedang Khaitsamah tidak mengetahui ; dan ternyata … Khaitsamah juga pergi hendak membayarkan hutang Masruq, sedang Masruq tidak mengetahui. Ayo adik-adik…ada yang bisa seperti mereka nggak???
Adik-adik…dari cerita-cerita tadi kira-kira apa sih ukhuwah islamiyah yang tadi pernah disebutin?? Apa ?? ada yang lain..??Jadi ukhuwah islamiyah itu adalah persaudaraan sesama muslim yang dipengaruhi rasa cinta, rasa kasih sayang dan rasa saling menghormati yang dilandasi iman dan taqwa kepada Allah.
Sekarang gimana sih caranya supaya ukhuwah islamiyah itu bisa awet?? Mau tau khan!! Caranya (diantaranya) :

· Memanjatkan doa untuknya dari kejauhan ketika saling berpisah. Karena doa untuk teman kita sebenarnya doa untuk kita juga.
· Jika berjumpa maka berikanlah senyuman dan muka yang manis. Jangan lupa ucapkan salam.
· Berjabat tangan bila bertemu, sesama jenis
· Saling kunjung mengunjungi
· Menyampaikan ucapan selamat berkenaan dengan sukses yang dicapainya
· Memberikan hadiah pada saat-saat tertentu
· Menaruh perhatian terhadap keperluan saudaranya dll.

Nah itu cara-cara supaya persahabatan Islam alias ukhuwah islamiyah kita awet. Adik-adik mau khan punya ukhuwah islamiyah di awal masuk sekolah ini. Kalau mau…coba aja cara-cara di atas dan inget..enggak hanya sama orang kaya, cakep dan pinter aja. Tapi dengan semua muslim, OK !!! Insya Allah.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
By: Anonim Bogoriense (Materi Mentoring Islam SMP)

Ditulis dalam Junior Mentoring Islam | Bertanda: , | Leave a Comment »