Jujur


Masih ingatkah kalian ketika membahas tentang pengawasan Allah atau muraqabah, kita mengetahui bahwa salah satu buah muraqabah adalah sifat jujur.

Sifat Yang Dimiliki oleh Para Nabi Allah
Jujur adalah salah satu sifat yang selalu dimiliki oleh para nabi Allah. Sejak nabi Adam AS sampai ke nabi Muhammad SAW.

Kisah Teladan 1
Pada masa sebelum kenabian Rasulullah Muhammad SAW, terjadi banjir di Makkah yang mengakibatkan Baitullah Ka’bah rusak total. Penduduk Quraisy di Makkah sepakat untuk merenovasi Ka’bah bersama-sama. Ketika renovasi sampai ke tahap akhir, terjadi perselisihan dalam menentukan siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Setiap kabilah yang terlibat masing-masing merasa bahwa golongan mereka paling pantas dan paling terhormat untuk melakukan tugas tersebut. Perselisihan nyaris berlanjut ke arah baku hantam antar kabilah. Untunglah ada seorang tua yang bijak yang mengusulkan agar masalah tersebut diselesaikan oleh orang yang muncul pertama kali di pintu masjid. Mereka pun akhirnya sepakat. Dengan berdebar-debar mereka pun menunggu.
Tak lama kemudian muncullah Muhammad di pintu itu. Setiap orang yang di tempat itu pun akhirnya bernapas lega karena Muhammad terkenal dengan panggilan Al Amin karena ia selalu berkata jujur dan menjaga amanah dengan baik. Dan memang setelah itu Muhammad membuat keputusan yang sangat adil yang mencakup setiap keinginan para kabilah.
Ibrah
Sifat jujur yang dimiliki Muhammad (sebelum kenabian) membuat ia disenangi oleh kaumnya dan dipercaya dalam setiap urusan. Hal yang sama juga terjadi setelah kenabian.

Kisah Teladan 2
Setelah Rasulullah menerima wahyu dan tiba saatnya ia melakukan da’wah secara terang-terangan, Rasulullah memanggil setiap kabilah di dekat bukit Shafa. Setelah banyak orang berkumpul, Rasulullah pun berkata, “Wahai Bani Quraisy, jika aku mengatakan kepada kalian bahwa tidak jauh di balik bukit ini ada sepasukan tentara yang memiliki persenjataan lengkap akan menyerang Makkah, apakah kalian semua percaya?”. Mereka berkata, “Kami percaya wahai Muhammad, karena engkau adalah Al Amin (dapat dipercaya)”. Rasulullah berkata, “Kalau begitu saksikanlah, aku bersaksi bahwa sesungguhnya Laa Ilaaha Illallah (Tiada Ilah/Tuhan selain Allah) dan Muhammad adalah Rasul Allah !”. “Huh, jadi untuk ini engkau mengumpulkan kami !”, tukas seseorang dari mereka lalu sebagian besar dari mereka pun bubar kecuali yang beriman terhadap apa yang telah dikatakan Rasulullah.
Ibrah
Keingkaran yang dilakukan oleh kaum Musyrikin di Makkah adalah keingkaran terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad karena selama ini mereka bersikeras dalam menjaga adat mereka menyekutukan Allah dengan berhala-berhala tandingan. Namun mereka mengakui bahwa Muhammad adalah Al Amin, apa yang dikatakannya selalu benar. Oleh sebab itu ada sebagian dari mereka yang beriman.
Jadi bayangkan kalau para nabi Allah adalah manusia-manusia yang kejujurannya kurang beres, mana mungkin kita mau percaya kepada mereka.

Sifat yang Dimiliki oleh Orang-orang yang Beriman
Sifat jujur tidak hanya dimiliki oleh para nabi. Simaklah firman Allah berikut ini : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (QS. 33 : 70).
Jadi setiap orang yang beriman kepada Allah diharuskan oleh Allah untuk bertaqwa kepada-Nya dan selalu berkata benar. (Kalau kita sering berkata yang tidak benar berarti bisa jadi keimanan kita yang dipertanyakan tuch!!)

Kisah Teladan 3
Suatu hari, Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba ia melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas menyengat dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang buah apel itu dipungut dan dimakannya. Rasanya begitu lezat! Akan tetapi baru sertengahnya dimakan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemiliknya.
Tsabit segera pergi ke kebun itu. Ia menemui seseorang di sana. Tsabit berkata, “Aku telah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik. Aku hanya tukang kebun di sini”. Dengan nada menyesal Tsabit bertanya, “Di mana rumah pemiliknya? Aku akan datang nmenemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini”. Tukang kebun itu berkata, “Apabila engkau ingin pergi ke sana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”. “Tidak mengapa. Walaupun jauh aku akan tetap ke sana. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seizin pemiliknya. Padahal Rasulullah penah bersabda : ‘Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia layak menjadi umpan api neraka‘, ” jawab Tsabit yang tekadnya sudah kuat.
Kemudian Tsabit pergi ke rumah pemilik kebun. Setiba di sana dia langsung mengetuk pintu dan akhirnya ia berhasil bertemu langsung dengan sang pemilik kebun yang umurnya sudah tua. Setelah memberi salam dengan sopan Tsabit berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh keluar kebun tuan. Karena itu, maukah tuan menghalalkan yang sudah kumakan itu ?”. lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya, kecuali dengan satu syarat !”. Tsabit merasa khawatir tidak dapat memenuhi syarat itu, maka ia segera bertanya, “Apa syarat itu tuan ?”. orang itu menjawab, “Engkau harus mau menikahi puteriku !”. Tsabit tidak memahami maksud lelaki itu, dia berkata, “Apakah karena hanya makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus menikahi puterimu ?”. Pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit, ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan puteriku. Dia seorang yang buta, bisu dan tuli. Lebih dari itu ia adalah seorang yang lumpuh !”.
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian si pemilik kebun berkata, “Selain syarat itu, aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan”. Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangan dan pernikahan tersebut. Aku telah bertekad untuk bertransaksi dengan Allah. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepada-Nya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.
Maka pernikahan pun dilaksanakan beberapa hari setelah itu. Ketika bertemu dengan istri baru itu, Tsabit terkejut. Ternyata ia memperoleh istri yang begitu cantik. Istrinya tidak buta, tidak bisu, tidak tuli dan tidak lumpuh. Akhirnya ia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?”. Istrinya menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa ?”. Sang istri menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah”. “Ayahku juga mengatakan bahwa aku ini bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu. Tsabit pun mengangguk. Istri Tsabit berkata, “Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku dikatakan lumpuh karena tidak pernah pergi ke tempat yang dapat menimbulkan kegusaran Allah”. Tsabit sangat bahagia setelah mendengar semua itu. Nah ketahuilah bahwa di kemudian harinya, wanita inilah yang melahirkan seorang ahli fiqh Islam yang terkenal yaitu Abu Hanifah.
Ibrah
Kejujuran yang terpancar dari pribadi Tsabit bin Ibrahim membuat sang pemilik kebun memandang Tsabit memiliki nilai lebih di hadapannya. Ia merasa bahwa lelaki seperti ini yang memiliki iman yang kuat jarang sekali dan sedikit jumlahnya. Oleh sebab itu, sang pemilik berusaha agar Tsabit mau menikahi puterinya yang juga shalehah.

Jujur= Shidiq ?
Dalam Islam (…atau dalam istilah Arab) istilah jujur biasa disebut shidiq atau dalam istilah lain, shidiq dapat diartikan benar (…misalnya benar dalam berbicara). Umumnya orang menyangka bahwa yang namanya shidiq hanya di lisan (lidah) saja, padahal ternyata tidak hanya itu.

Shidiq pada Diri Manusia
Shidiq pada diri manusia itu ada tiga macam, yaitu:
Shidiq pada niat
Masih ingatkah kalian ketika kita membahas tentang pengawasan Allah (muraqabah) kita mengetahui bahwa Allah mengetahui isi hati kita. Orang yang shidiq di hati senantiasa jujur pada hati kecilnya. Ketika ia berbuat kebaikan maka hatinya pun memang berniat untuk berbuat kebaikan. Dalam melakukan ibadah maka niat dalam hatinya juga ditujukan untuk ibadah kepada Allah.
Orang yang hatinya tidak shidiq, bisa jadi ia melakukan suatu kebaikan namun ternyata dalam hatinya justru sangat membencinya. Bisa jadi ia berkata tentang keimanan tapi justru hatinya begitu busuk.
Kalian pernah dengar nama Abdullah bin Ubai ? Abdullah bin Ubai ini kalau shalat fardhu berjama’ah selalu berusaha di belakang Nabi SAW. Pakaian yang ia kenakan baru, rapi dan wangi. Gerakan shalatnya kelihatan begitu khusyu. Namun ternyata di akhir hayatnya Rasulullah diberi tahu Allah lewat Jibril bahwa Abdullah bin Ubai sebenarnya adalah orang yang munafik.
Dalam sejarah Islam, Abdullah bin Ubai terkenal sebagai salah seorang munafik. Ia mengaku beriman padahal sebenarnya dalam hati ia begitu membenci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Lain di mulut lain di hati ! Kesudahan bagi orang yang munafik tentu saja adalah neraka jahannam. Naudzubillah min dzalik !
Jadi orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang hatinya shidiq. Hatinya membenarkan bahwa ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga mengakui kebenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasul Allah.
Contoh lain orang yang hatinya tidak shidiq digambarkan pada hadits berikut :
“Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’. Dia menjawab, ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid’. Allah berfirman. ‘Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan, ‘Dia adalah orang yang gagah berani’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu ?’. dia menjawab, ‘ Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu’, dan engkau membaca Al Qur’an agar dikatakan, ‘Dia adalah qari (pandai membaca)’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. . Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu ?’. dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku menafkahkannya karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim, Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Rasulullah dalam hadits tadi menggambarkan kesudahan yang jelek bagi orang-orang yang melakukan amalan-amalan yang sebenarnya bernilai ibadah demi mendapatkan pujian dari orang lain. Mereka mendapatkan pujian tetapi tidak mendapatkan balasan dari Allah. Orang-orang seperti itu termasuk tidak shidiq/jujur hatinya. Naudzubillah min dzalik !!

Shidiq pada Lisan
Shidiq pada lisan digambarkan dalam firman Allah berikut : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS 33 : 70)
Inilah bentuk keshidiqan lisan yaitu senantiasa berkata yang benar atau biasa kita sebut jujur. Bahkan Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau (lebih baik) diam” (HR Bukhari dan Muslim).
Contoh kejujuran pada lisan telah digambarkan pada kisah Tsabit bin Ibrahim. Sedangkan kisah unik tentang manusia yang jujur ada pada kisah nyata berikut :

Kisah Teladan 4
Kalian pernah dengar nama Imam Syafi’i rahimahullah ? Dia adalah salah seorang ahli fiqh di dunia Islam. Ketika ia masih muda, suatu hari ia akan berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk belajar kepada seorang ulama besar di kota. Ibu Syafi’i kecil memberikan bekal uang sebagai bekal untuk putranya di kota. Jumlah uang itu cukup banyak ! (Jika dihitung Dengan kurs rupiah bisa sampai jutaan) Uang tersebut disimpan di saku baju Syafi’i kecil yang sengaja dijahit di bagian dalam bajunya. Sang ibu pun berpesan agar Syafi’i kecil senantiasa berkata jujur.
Syafi’i kecil berangkat bersama-sama dengan sebuah rombongan kabilah. Tiba-tiba di tengah jalan, rombongan itu dicegat oleh gerombolan perampok. Semua harta yang dibawa oleh rombongan kafilah tersebut dirampas habis. Akhirnya tibalah giliran Syafi’i kecil digeledah. Ternyata perampok itu tidak berhasil menemukan apa-apa. “Hei anak kecil, kamu bawa harta atau tidak ?” Tanya perampok. “Ya, aku bawa di saku baju di balik bajuku !” jawab Syafi’i kecil dengan polosnya sambil menyebutkan jumlah uang yang dibawanya. “Ah, mana mungkin anak kecil seperti kamu membawa uang sebanyak itu !” tukas si perampok. “Sini biar aku geledah anak ini !” kata pimpinan perampok. Betapa terkejutnya mereka ketika ternyata apa yang dikatakan Syafi’i kecil itu benar. Uang tersebut akhirnya dirampas dan para perampok pun pergi.
Di tengah perjalanan, sang pimpinan perampok tampak gundah. Ia jadi tersentuh hatinya ketika tadi menyaksikan kejujuran Syafi’i kecil. Ia mulai berpikir bahwa sebenarnya yang ia dan teman-temannya lakukan adalah salah. Tak lama kemudian para perampok pun kembali ke rombongan kabilah tadi. Setiap orang yang ada di rombongan itu kaget ketika melihat rombongan perampok itu kembali. (Mereka pikir akan dirampok lagi…….tapi, apa yang mau dirampok ?) Mereka sangat terkejut ketika menyaksikan bahwa para perampok itu mengembalikan harta yang mereka rampok tadi. Rupanya pimpinan perampok itu menjadi insyaf lalu ia mengajak kawan-kawannya untuk insyaf juga. Subhanallah!
Ibrah
Kejujuran yang muncul dari Syafi’i kecil ternyata mampu meluluhkan hati para perampok yang hatinya kriminal. Padahal bermula dari keimanan Syafi’i kecil kepada Allah.
Kisah Teladan 5
Kalian pernah dengar George Washington ? Itu tuh yang mukanya ada di uang dolar Amerika. Nah pada waktu kecil, George dihadiahi kapak kecil oleh ayahnya. Saking gembira, George bermain di kebun rumahnya dan berbuat iseng pada pohon-pohon di kebun, termasuk juga pada pohon kesayangan ayahnya. Tanpa diduga, pohon kesayangan ayah George roboh. George terkejut dan amat ketakutan. Ia membayangkan bahwa akan betapa marahnya sang ayah kalau tahu. Ia bingung, lebih baik pura-pura tidak tahu atau jujur saja. Akhirnya dia berpikir bahwa mau tidak mau ayahnya pasti akan tahu. Akhirnya George menemui sang ayah dan mengakui kesalahannya. Tahukah kalian apa reaksi sang ayah ? Ia malah tersenyum dan berkata, “George, ayah lebih baik kehilangan pohon kesayangan daripada harus mempunyai anak yang tidak jujur.” George pun bernagas lega.
Ibrah
Dari kisah ini kita mengetahui bahwa orang yang jujur dianggap sangat berharga sekalipun dipandang dari kacamata orang tidak beriman.
Setiap Orang Suka Orang yang Jujur
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat bahwa orang-orang yang jujur sangat dibutuhkan. Karena dari sifat itulah mereka dapat dipercaya dalam segala urusan. Kalian pasti pernah dengar bahwa kerusakan dan kekacauan yang terjadi di negara kita bermula dari orang-orang yang tidak jujur.
Walaupun Rasulullah SAW sangat dimusuhi oleh para musyrikin di Makkah, ternyata beliau masih disukai karena kejujurannya.
Kisah Teladan 6
Kalian pasti ingat pada saat Rasullullah hijrah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq ra, beliau sengaja menyuruh Ali bin Abi Thalib ra untuk tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan amanah yang belum diselesaikan. Tahukah kalian amanah apakah itu ? Ternyata Rasulullah selama ini masih dipercaya untuk menjaga barang-barang titipan dari sejumlah penduduk di Makkah padahal saat itu Rasulullah sangat ditekan dan dimusuhi. Hal ini memang wajar karena kebanyakan penduduk Mekkah adalah orang-orang yang masih musyrik dan tentu saja…tidak bisa dipercaya! (unik ya… urusan agama – musuh,… tapi urusan bisnis – teman!)
Ibrah
Sifat jujur yang dimiliki Rasulullah membuat orang Quraisy -mau tidak mau- mempercayakan barang-barangnya sekalipun mereka tidak suka terhadap ajaran yang dibawa oleh Muhammad.

Shidiq pada amal
Bagi orang-orang yang beriman, mereka menunjukkan keshidiqan dirinya dengan melakukan amal shaleh. Inilah shidiq pada amal. Allah berfirman :”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata,’Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji?” (QS 29 :2).
“Orang-orang Arab dusun itu berkata,’Kami telah beriman.’Katakanlah ‘Kamu belum beriman! Tetapi katakanlah,’Kami telah Islam (tunduk)’, dan belumlah keimanan masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 49 : 19)
“Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS 2 : 82)
Nah alangkah anehnya apabila seseorang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan tetapi tidak mau sholat, tidak mau zakat dan tidak mau beribadah yang lainnya yang diperintahkan Allah. Orang yang seperti ini, sekalipun mengumumkan ke seluruh dunia dengan menggunakan sound system yang tercanggih dan termodern seraya berteriak “Saya beriman !!” namun sehari-harinya ia tidak mau dan malas melakukan amal shaleh, siapa sih yang mau percaya padanya?
Shidiq Niat, Lisan dan Amal Saling Berkaitan
Shidiq tentu saja tidak cukup di lisan saja, tetapi juga di hati dan di amal perbuatan kita. Inilah sifat yang dimiliki para nabi dan orang-orang beriman.
Adakah Ketidakjujuran yang Dibolehkan?
Dalam Islam, seseorang boleh –dengan terpaksa tentunya- berkata tidak jujur, tetapi perlu diingat bahwa ketidakjujuran ini dilakukan pada keadaan sangat darurat, misalnya menyangkut masalah nyawa atau aqidah kita.
Kisah Teladan 7
Kalian pernah dengar Ammar bin Yasir ra? Ia adalah salah seorang shahabat Rasul yang dijamin masuk surga, beserta ayah dan ibunya. Pada periode makkiyah, Ammar beserta kedua orang tuanya mengalami penyiksaan yang sangat berat yang dilakukan oleh para musyrikin quraisy. Ammar sampai harus menyaksikan ayah dan ibunya mati syahid dihadapannya akibat siksaan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu. Ammar juga ikut disiksa. (Sampai-sampai keadaan Ammar begitu payah, matanya berkunang-kunang, error dan pokoknya….BT abiss!!) Ia disuruh menyembah kepada berhala-berhala mereka yaitu Latta dan Uzza. Tanpa sadar, Ammar pun mengikuti apa yang mereka suruh.
Setelah dilepaskan, Ammar pun segera pergi menghadap Rasulullah dan ia menyatakan penyesalannya karena telah menyembah berhala ketika disiksa. Kemudian turun firman Allah kepada Rasulullah yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Ammar bin Yasir dimaafkan oleh Allah, karena ia melakukan itu karena terpaksa dan hatinya masih tetap beriman.
Ibrah
Kita mengetahui bahwa Allah mengetahui isi hati kita. Kita juga mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Itulah sebabnya mengapa perbuatan yang dilakukan Ammar bin Yasir dimaafkan. Dia melakukan maksiat karena terpaksa padahal hatinya tidak mau. Tapi sekali lagi jangan lupa kalau hal ini hanya terjadi pada keadaan yang benar-benar darurat. Apalagi saat itu Ammar terancam nyawa dan aqidahnya. Sekalipun kalau sekiranya ia sampai harus mati, ia tetap mati dalam keadaan syahid seperti yang dialami oleh kedua ibu bapaknya. Sedangkan orang yang mati syahid itu akan masuk surga tanpa hisab. Subhanallah!!!
Ketidakjujuran yang Jujur
Memang dalam kondisi kritis kita diperkenankan tidak jujur –tentu saja demi kebikan– akan tetapi ketidakjujuran tersebut diharapkan untuk tetap jujur. Bingung ya ? Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Kisah Teladan 8
Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq sedang hijrah ke Madinah, mereka bertemu dengan seseorang yang sedang berjalan menuju Mekkah. Pada waktu itu mereka berdua sedang dikejar-kejar oleh musyrikin Mekkah untuk dibunuh. Untunglah orang yang di depan mereka tidak mengenal siapa mereka. Orang yang di depan mereka bertanya, “Kalian berasal dari mana?”. “Kami berasal dari air!” jawab Rasulullah. “Oh, sungai Tigris! Mereka berasal dari Persia” gumam orang itu sambil melanjutkan perjalanan.
Ibrah
Tahukah kalian jawaban Rasulullah tadi dapat diartikan macam-macam. Bisa jadi dari air itu berarti dari tempat yang banyak airnya, misal : sungai, danau atau mata air. Padahal maksud Rasulullah adalah ia berasal dari air mani. Bukankah setiap manusia mula-mula diciptakan dari air mani yang hina. Jadi, Rasulullah menyembunyikan keberadaan dirinya dan Abu Bakar agar tidak ketahuan dengan cara yang tetap jujur. Coba kalau misalnya orang tadi bertemu dengan orang ynag mengejar Rasulullah, lalu ditanya, “Apakah kamu bertemu dengan dua orang yang datang dari Makkah?”. Sudah pasti jawaban orang itu : “Tidak!”
Kisah Teladan 9
Masih ketika hijrahnya Rasulullah SAW bersama Abu Bakar. Rasulullah dan Abu Bakar biasa bertukar tempat untuk duduk di atas unta selama perjalanan. Kali ii giliran Abu Bakar yang duduk di unta dan Rasulullah yang berjalan menuntun unta. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seseorang. Orang itu bertanya kepada Abu Bakar, “Siapakah dia?” sambil menunjukkan tangannya ke arah Rasulullah. Abu Bakar menjawab, “Ia adalah penunjuk jalanku.”
Ibrah
Dengan cerdik Abu Bakar memberitahukan identitas Rasulullah sebagai sang penunjuk jalan. Orang yang bertanya tentu saja berpikir bahwa ia adalah penunjuk jalan biasa karena saat itu Abu Bakar sedang dalam perjalanan menuju Madinah. Padahal sebenarnya bagi Abu Bakar, Rasulullah adalah penunjuk jalan yang selama ini telah menunjukinya ke jalan yang lurus yaitu Islam.
Nah itulah contoh yang pernah ditunjukkan oleh Rasulullah dan shahabatnya. Tapi ingat, untuk apa melakukan ketidakjujuran pada kondisi biasa-biasa saja. Disamping tidak berguna, justru malah menimbulkan dosa.

Penutup
Allah telah menyuruh kita, orang-orang yang beriman untuk senatiasa berlaku jujur. Bukankah seseorang disebut jujur karena ia sehari-hari memang senantiasa berbuat jujur. Sebaliknya, seseorang disebut pembohong karena sehari-hari memang terlalu sering berlaku kebohongan.
Kalian pernah dengar kisah tentang seorang anak yang berteriak ada serigala datang, sehingga membuat orang sekampung datang. Alangkah kecewa mereka ketika mengetahui anak itu hanya sekedar bercanda. Hal yang sama dilakukannya lagi, sampai-sampai orang sekampung dibuat kesal lagi karena tertipu. Ketika anak itu berteriak untuk ketiga kalinya, tidak ada orang yang datang menolong, padahal kali ini yang ia teriakkan adalah benar. Anak itu pun menjadi korban serigala. Inilah akibat jelek yang diterima tukang bohong.
Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebajikan, dan sesungguhnya kebajikan itu akan mengantarkan ke surga. Dan seseorang senantiasa berkata benar dan jujur hingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang benar dan jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, yang akhirnya akan mengantarkan ke dalam neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi kalian pilih mana, disebut orang jujur atau disebut tukang bohong?
Nah sekarang, apa yang membuat kita selalu berusaha untuk menjadi orang yang jujur atau shidiq atau menjadi termasuk kategori shidiqin? Simak firman Allah berikut : “Dan barangsiapa taat kepda Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari para nabi, shidiqin, syuhada dan orang-orang yang shaleh; dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS 4 : 69).
Yang membuat kita ingin menjadi orang yang shidiq adalah karena balasan yang disejajarkan dengan apa yang diperoleh nabi-nabi, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh yaitu diberikan nikmat oleh Allah. Apalagi kalau bukan surga!!

Source: Materi Mentoring SMP

Satu Tanggapan to “Jujur”

  1. masamudamasakritis Says:

    bener…..katakanlah yg jujur walaupun itu pahit…klau bohong trtekan batinnn…
    bang kami menyediakan buka gratis…klau mau silahkan kunjungi di
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/ silahkan baa petunjuknya dan komentar…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: