Mus’ab Bin Umair


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Si Tampan Yang Manja
Dia salah satu sahabat Rasulullah. Usianya masih sangat muda. Pada mulanya dia anak seorang yang saaa…angat kaya. Pakaiannya bagus dan potongan rambutnya tertata rapi. Dia juga sangat terkenal kerena memiliki wajah yang saa…angat tampan. Siapakah pemuda tampan ini? (tanya). Ya benar pemuda ini bernama Mush`ab bin Umair.
Dia mendengar perihal Nabi Muhammad saw. Saat itu dia bersama orang tuanya adalah penganut agama jahiliyah, penyembah berhala. Dia mendengar Nabi Muhammad saw mengajarkan agama yang berbeda dengan agama orang Mekah umumnya. Seperti apa gerangan agama itu? Mush`ab sangat penasaran lalu diselidikinya apa gerangan Islam itu? Apa Islam lebih baik dari agama jahiliyah?
Dia bertanya kepada beberapa orang tentang Nabi Muhammad saw. Saat itu Nabi melakukan dakwah agamanya dengan diam-diam untuk menghindari kaum musyrikin yang memusuhinya. “Muhammad sering pergi ke Bukit Shafa”, kata seorang temannya. “Ke Bukit Shafa? Di mana tepatnya?” tanya Mush`ab. “Aku tidak tahu”.
Mush`ab harus melakukan penyelidikan lagi. Dia pergi ke Bukit Shafa untuk mengintai. Dia melihat Nabi memasuki rumah Al Arqam bin Al Arqam. “Itu dia!” seru Mush`ab gembira. “Aku mau ikut ke sana!”
Mush`ab pemuda yang cerdas. Karena itu dia tahu Nabi melakukan dakwahnya secara diam-diam. Semuanya dilakukan dengan sangat rahasia. Mush`ab pun menoleh ke sana kemari. Melihat kalau-kalau ada orang. Ketika dia yakin tidak ada orang yang melihatnya, dia bergegas menuju ke rumah Al Arqam bin Al Arqam.
Ayat-ayat suci Al Quran terdengar dari dalam rumah itu. Diucapkan oleh Nabi Muhammad saw. Mush`ab memasuki rumah itu lalu duduk terpaku mendengar alunan ayat-ayat suci. Inikah ajaran Islam itu? Bergetar dada Mush`ab. Ayat-ayat suci yang dibacakan oleh Nabi telah mengguncangkan jiwanya. Tercetus dalam hatinya, niatan beriman kepada Rasulullah.
Itulah awalnya Mush`ab bin Umair masuk Islam. Selanjutnya dia selalu datang ke tempat itu. Tentu saja dilakukan diam-diam. Dia belajar langsung kepada Nabi utusan Allah. Kecerdasan otaknya membuatnya bisa dengan cepat memahami ajaran-ajaran yang diterimanya.
Pada suatu hari, ketika matahari sudah condong ke Barat. Mush`ab sedang menuju ke rumah Al Arqam bin Al Arqam. Ia merasa tidak ada orang yang melihatnya, tetapi sebenarnya ada seorang lelaki mengintainya.
“Apa yang dilakukan anak Umair itu?” tanya Usman bin Thalhah dalam hatinya. Usman mendekat dan mengintai. Ia menyaksikan Mush`ab sedang shalat bersama Nabi Muhammad saw. “Terkutuklah anak Umair!” dengus Usman, “Dia menghianati agama orang tuanya sendiri, agama kaumnya!”
Usman marah besar. Orang-orang musyrik dan kafir seperti dia pasti akan marah besar menyaksikan kaumnya menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Lalu karena marahnya Usman melaporkan hal itu kapada Khunas binti Malik, ibu dari Mus`ab bin Umair. Tentu saja Khunas marah mendengar berita itu. Selain itu Khunas merasa terpukul karena Mus`ab adalah anak yang sangat dimanjakan. Tak bisa dikatakan lagi tentang sayangnya kepada Mush`ab. Dia mengharapkan kelak anaknya itu menjadi penerusnya, juga penerus agamanya, agama nenek moyangnya. Kini tiba-tiba dia menjadi pengikut Muhammad yang mengaku sebagai Nabi itu.
Ketika Mush`ab sampai di rumahnya di sana banyak berkumpul orang-orang Mekah yang cukup terpandang. Khunas menegur anaknya, “Apa yang kau lakukan di luar rumah ini anakku?” Tak lama kemudian Mush`ab sadar, ibunya telah tahu apa yang dilakukannya selama ini. Percuma ia membantah, tak akan ada yang mempercayainya. Pasti sudah ada mata-mata ibunya yang menyaksikannya di rumah Al Arqam bin Al Arqam. Entah siapa, Mush`ab tidak tahu. Tetapi pasti salah seorang diantara orang-orang yang berkumpul itu.
“Aku telah menganut agama Islam,” kata Mush`ab berterus terang. Bagai disambar petir di siang bolong, Khunas binti Malik mendengar pengakuan anaknya. Anaknya telah menjadi penganut aliran sesat, agama ajaran Muhammad!
“Kau telah diracuni ajaran sesat!” jerit Khunas. “Allah Maha Besar! Dalam hatiku telah bersemayam iman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya”. Mush`ab lalu membacakan ayat-ayat suci Al Quran yng diajarkan oleh Nabi. Sesaat orang-orang terpana mendengarnya. Tetapi kekafiran mereka segera menolak kebenaran ajaran itu.
Khunas semakin marah dan ia segera menyuruh para pengawalnya untuk memenjarakan Mush`ab. Itulah nasib yang harus dialami Mush`ab. Ujian bagi keimanannya telah dimulai. Ia terkucil di situ. Orang-orang suruhan ibunya menjaga siang malam. Dia diberi makan dan minum sekadarnya. Khunas berharap anaknya sadar karena penderitan itu. Mau meninggalkan ajaran Muhammad dan kembali menyembah Al Latta dan Al Uzza (nama-nama berhala yang mereka sembah).
Tetapi bisakah iman dihati Mush`ab terkikis karena penderitaannya itu? (baca QS 2:2-3) Ajaran-ajarn itulah yang telah melekat dalam hati Mush`ab. Maka sekalipun ia harus menderita dalam penjara buatan ibunya sendiri, ia pantang menyerah.

Jubah Usang Penuh Tambalan
Berbulan-bulan lamanya Mush`ab terpenjara. Terputus hubungan dengan kaum muslimin di luar sana. Mush`ab terus-menerus mencari akal untuk melarikan diri. Dia berlagak tak berdaya dihadapan para penjaganya. Tetapi sebenarnya dia terus berusaha bagaimana bisa meloloskan diri dari penjara itu.
Kesempatan itu tiba. Dia lari sejauh-jauhnya bergabung dengan orang muslimin yang akan pergi ke Habasyah dan bersembunyi. Tak lama setelah kembali ke Mekah, Mush`ab diketahui oleh –orang-orang ibunya. Orang-orang itu melapor kepada Khunas binti Malik. “Bawa kembali dan kurung dia!” seru Khunas. Tetapi apa yang terjadi? Sekali ini Mush`ab melawan. “Aku bersumpah akan membunuh siapa saja yang akan mengembalikanku ke penjara ibuku!” seru Mush`ab. Dia bersungguh-sungguh. Orang-orang suruhan Khunas pun tidak berani mendekatinya.
Khunas sangat kecewa, tapi kasih sayang ibu tidak dapat begitu saja lenyap. Maka ditemuinya anaknya itu. “Anakku”, panggilnya lembut, “Telah banyak kesalahanmu kepada ibu. Telah berulang kali kau mengecewakan dan melukai hati ibu, tetapi biarlah ibu memaafkan semua kesalahanmu”.
Terharu juga hati Mush`ab mendengarnya. Bagaimanapun dia sayang kepada ibunya. “Terima kasih ibu,” bisik Mush`ab dengan air mata bercucuran, “Tetapi aku tetap pada keimanku. Ibu tidak bisa mengubahnya sedikit pun”.
“Lihatlah keadaanmu itu. Pakaianmu compang-caping, tubuhmu kotor, hidupmu terlunta-lunta tak karuan. Semua itu karena kesesatanmu. Kembalilah kepada ibu, kepada keluargamu, kepada agamamu”.
“Hanya Islam agamaku”, tegas Mush`ab.
“Jangan ucapkan itu!”
“Aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah!”
“Terkutuk!” seru Khunas dengan kalapnya, “Pergilah sesukamu! Pergilah menjadi gelandangan miskin! Sejak saat ini kau bukan lagi anakku!”
Betapa perih hati Mush`ab. Siapa tak perih harus kehilangan ibu dengan cara begitu. Mush`ab pergi membawa luka hatinya. Allah telah menutup hati dan pendengar Khunas binti Malik. Dan azab Tuhanlah baginya (QS 2:7). Berbulan-bulan kemudian Mush`ab pun hilang dari pembicaraan orang. Tak ada yang tahu dia ke mana. Ibunya pun tak mau tahu lagi tentang anaknya yang sesat menurut pandangannya ini.
Pada suatu hari, kaum muslimin sedang berkumpul bersama Nabi Muhammad saw. Mereka duduk di sekeliling Nabi. Ada seseorang lelaki datang bersalam. Kaum muslimin serentak menjawab salam itu. Tetapi siapakah yang bersalam?
Lelaki yang bersalam itu berambut kusut. Warna rambut itu kelabu. Tubuhnya kotor penuh debu. Pakaiannya hanya selembar jubah usang yang penuh tambalan di sana-sini. Dia tampak sangat miskin, lapar dan barangkali dia gelandangan.
Tetapi suaranya masih dikenal kaum muslimin. Hanya suaranya. Wujudnya telah berubah sedemikian rupa sehingga orang tidak mengenalinya lagi. Itulah Mush`ab bin Umair sekarang. Telah hidup terlunta-lunta. Anak manja yang biasa hidup berkecukupan, tak kurang apapun. Kini menjelma menjadi lelaki kumal seperti itu.
Meneteslah air mata beberapa orang yang menyaksikan penampilan Mush`ab. Beberapa orang berdiri dan merangkul Mush`ab. Nabi memandangi Mush`ab sesaat. Lalu bersabda, “Dulu saya lihat Mush`ab ini tidak ada yang mendinginya dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.
Tetapi Mush`ab tidak merasa sedih. Justru ia sangat gembira karena bisa berkumpul dengan saudara-saudaranya sesama muslim dan bersama Nabi pilihan Allah yang diimaninya.

Pembawa Bendera Muslimin
Setelah Mush`ab dipilih oleh Rasulullah menjadi duta Islam di Madinah. Semakin banyak pengikut Islam di Madinah. Beberapa tahun kemudian Rasulullah dan para sahabat serta pengikutnya berhijrah dari Mekah ke Madinah. Kaum Muhajirin (orang-orang Islam yang Hijrah) dan kaum Anshar (umat Islam di Madinah) bersama-sma menjadi keluarga besar muslim. Mereka bersatu dalam menghadapi kaum musyrikin Quraisy yang menyerang mereka.
Pada suatu saat tibalah masa untuk berjihad bagi mereka dalam perang Uhud. Seluruh strategi telah disusun oleh Rasulullah sebagai panglima perang pada waktu itu. Perang ini sungguh seru karena kekuatan kaum muslimin yang hanya 600 orang harus melawan pasukan kuda yang terlatih dengan jumlah 3000 orang.
Ketika perang berlangsung pada awalnya perang itu dikuasai oleh kaum muslimin, namun karena kelengahan dari para prajurit, maka kaum muslimin pada waktu itu terkepung. Sebagian besar prajurit pada waktu itu terpaksa melindungi Nabi Muhammad saw.
Dengan otak yang cerdas Mush`ab yang pada waktu itu memegang bendera muslimin di barisan depan berpikir dengan cepat. Kemudian beliau berlari ke tempat yang berlawanan arah dengan Nabi Muhammad dengan maksud menarik perhatian lawan. Mush`ab pada waktu itu berhasil menarik perhatian lawan, sehingga hampir semua lawan menuju ke arahnya.
Namun apalah daya Mush`ab. Seorang diri menghadapi musuh sebanyak itu. Datang seorang berkuda menghadapinya, orang itu kemudian mengayungkan pedangnya dan membabat tangan Mush`ab yang memegang bendera. Bendera itu jatuh namun Mush`ab berusaha memegang bendera dengan tangan sebelahnya. Kemudian tangan yang memegang bendera itu pun ditebas oleh lawan. Namun Mush`ab tidak menyerah beliau memegang bendera itu dengn kedua tangannya yang buntung dan berlumuran darah. Diambilnya bendera itu sambil membungkuk.
Mush`ab terus mengamuk dan mengucapkan kalimat tauhid secara berulang-ulang hingga tombak musuh menghujam di seluruh tubuhnya. Gugurlah ia sebagai pahlawan Islam yng membela nabinya dengan sepenuh jiwa raganya.
Ketika perang usai, Nabi meninjau bekas medan laga itu. Betapa pilu hati Nabi ketika melihat jenazah Mush`ab bin Umair. Kemudian beliau menyuruh menutupi jenazah itu dengan selembar kain burdah. Kain itu ditutupkan, tetapi tidak cukup. Bila ditutupkan ke kakinya maka kepalanya tidak tertutup. Bila ditutupkan ke kepalanya maka kakinya kelihatan. Karena tidak cukup maka Nabi menyuruh untuk menutupi kakinya dengan rumput Idzkhir.
Sabda Rasulullah saw, “Ketika Mekah dulu, tak seorangpun ku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada Mush’ab bin Umair. Kini rambutnya kusut masai, hanya tertutup sehelai kain burdah…”

Ibroh:

1. Ketampanan/kecantikan, harta dan jiwa raga yang tidak ada artinya disisi Allah. Karena semua itu bukan milik kita tapi milik Allah. Yang dinilai oleh Allah hanyalah keimana yang kita miliki.
2. Berbakti kepada orang tua memang diwajibkan oleh Allah. Tetapi dalam hal keimanan dan aqidah kita tidak boleh melanggar perintah Allah.
3. Setiap Mukmin pasti akan diuji oleh Allah di dunia ini, untuk melihat sejauh mana kecintaannya kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya.
4. Setiap muslim yang mencintai Allah dan Rasul-Nya berani untuk mengorbankan segala yang dimilikinya termasuk jiwanya sekalipun.


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: