Sifat S h i d d i q


“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.”  (QS. At-Taubah : 119).

Kejujuran dan Kedustaan

Ayat ini menyuruh orang-orang beriman agar tetap bertaqwa dan berlaku Shidiq, benar dan jujur tidak seperti orang-orang munafiq yang selalu menutupi kemunafikannya dengan menggunakan kata-kata dusta dan kepalsuan bahkan tidak segan-segan menggunakan sumpah palsu untuk menutupi kebohongannya.

Shidiq adalah sikap jiwa yang jujur dan benar dalam niat, perkataan dan amaliyah sehari-hari. Lawan dari Shidiq ialah Kidzib artinya dusta ( palsu ). Dalam kehidupan ini aman dan kacaunya masyarakat amat ditentukan oleh sifat shidiq dan kidzib dari para penghuninya. Shidiq melahirkan sifat amanat dan tanggung jawab. Kepada mereka inilah tumpuan kepercayaan bisa diberikan. Masyarakat akan aman dan tentram bila para pemegang kendali kehidupan, seperti para pakar, para cerdik pandai, pengusaha, pedagang dan tokoh mempunyai karakter shidiq, amanat dan jujur.

Sebaliknya keserakahan dan kekacauan ekonomi, kriminalitas, korupsi, kebocoran dana dan anggaran, manipulasi dan lain sebagainya akan tetap terjadi bila penghuni kolong langit ini krisis dari sifat shidiq. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya shidiq ( kebenaran ) itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan seseorang yang membiasakan dirinya berkata benar hingga tercatat di sisi Allah sebagai shidiq ( orang yang benar ), dan kidzib ( dusta ) itu membawa kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang suka berdusta sehingga dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dua sifat yang bertentangan antara sidiq dan kidzib, dua-duanya tidak pernah terdapat dalam diri seseorang, masing-masing menjadi ciri dan identitas kepribadian seseorang.

Shidiq memberikan identitas bagi orang-orang beriman, sedang kidzib menjadi ciri orang-orang munafiq.Identitas orang beriman dan taqwa yang mendapat jaminan surga ialah orang-orang yang shabar, orang-orang shidiq ( benar dan jujur perkataan, hati dan amalnya ), dan orang-orang yang ta’at, dan orang-orang yang menafkahkan hartanya ( di jalan Allah ) dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur ( QS. Ali- Imran : 17 ).

Sedangkan identitas kidzib terdapat pada orang-orang munafiq, seperti yang disebut dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Tanda-tanda munafiq itu ada tiga : apabila berkata dusta, bila berjaniji ia menyalahi dan apabila dipercaya ia berkhianat.” ( HR. Muttafaqun ‘alaihi ).

Kebenaran dalam Hati, Lisan dan Perbuatan

Shidiq menjadi tonggak penopang tegaknya iman dan sempurnanya akhlaq seseorang. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :

“Iman itu bukanlah angan-angan kosong, tetapi ( keimanan ) itu apa yang menetap di hati dibuktikan kebenarannya dengan amal. Dan sesungguhnya ada satu kaum yang tertipu oleh angan-angan kosong, sehingga mereka keluar dari dunia tanpa amal kebaikan. Mereka berkata : “Kami berharap baik kepada Allah” Mereka telah berdusta ( kidzib ). Jika mereka benar-benar berharap baik ( iman ) kepada Allah, niscaya mereka beramal baik.”

Orang yang bijaksana ialah yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang-orang yang dungu ialah mereka yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong terhadap Allah. Beramalah hai Fathimah karena aku tidak berguna sedikitpun bagimu terhadap Allah.” Al-Hadits.

Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu harus dibuktikan dengan shidiq ( kebenaran ) pada tiga tempat :

  1. Pada hatinya harus tersimpan kebenaran dan kejujuran, keikhlasan menjadi motivasi seluruh perbuatan yang hanya karena Allah semata-mata.

  2. Lisannya pun mengungkapkan iman dan kebenaran yang ada dalam hatinya sehingga apa yang diucapkan selalu benar, jujur dan besih dari segala yang kotor, keji dan dusta.

  3. Perbuatan adalah cermin dalam jiwanya. Jika iman dan kejujuran hatinya itu memang murni dan benar ( shidiq ) maka akan dan harus nampak benar, kejujuran imannya itu melahirkan kebajikan-kebajikan yang selalu mengalir secara produktif dari dirinya.

Dan ini memang cermin kepribadian orang-orang beriman. Bila tidak maka ia berbuat kidzib atau dusta sedangkan iman dan kebenaran itu tidak cukup hanya berangan-angan, Fathimah putri dan buah hati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri harus menumbuk gandum, menjahit sendiri bajunya dan Rasulullah bangga melihatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: