Hotel dengan Kaidah Syari’ah


Pembentukan Bank Muamalat tahun 1992 sebagai Bank Syari’ah pertama di Indonesia merupakan titik awal pertumbuhan dan perkembangan paradigma ekonomi Syari’ah secara faktual di bumi pertiwi ini. Hal ini berlanjut dengan perkembangan lingkup derivatif (turunan)-nya, berupa Asuransi Syar’iah, Obligasi Syar’iah, Reksadana Syar’iah, Pegadaian Syar’iah, Program Tivi Syar’iah, dll. Sesungguhnya paradigma ini telah pula berkembang jauh sebelumnya di luar negeri, sejak tahun1970-an, bahkan juga di negara-negara Barat sekalipun, yang pada dasarnya bersifat terbuka untuk menerimanya.
Keterbukaan dan kesediaan ini terbukti dengan ikut-sertanya lembaga-lembaga keuangan terkemuka seperti Citibank, ABN Amro, HSBC yang juga menyediakan desk layanan perbankan Islam. Begitu pula  di bidang pasar modal dunia, dengan Dow Jones Islamic Index di New York Stock Exchange. Dunia Barat memandang hal ini sebagai satu Ethycal Invesment atau Bisnis biasa saja; yang membingkai nilai-nilai komersial suatu bisnis dengan nilai-nilai tertentu. Demikian pula dengan paradigma Ekonomi dan Bisnis Syari’ah merupakan kebijakan dan prinsip-prinsip yang melengkapi praktek ekonomi dan bisnis pada umumnya.

Sedangkan usaha perhotelan merupakan usaha yang bergerak dalam jasa akomodasi, yang dikelola secara komersial, serta memenuhi ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan-peraturan pemerintah. Bahkan dalam Ketentuan Usaha Bidang Perhotelan, pada Bab VII Ps. 24 ayat 1, dijelaskan: Dalam menjalankan usaha hotel, pimpinan hotel wajib untuk: (a) Memberi perlindungan kepada para tamu hotel; (b) Menjaga martabat hotel, serta mencegah penggunaan hotel untuk perjudian, penggunaan obat bius, kegiatan-kegiatan yang melanggar kesusilaan, keamanan dan ketertiban umum.

Dari ketentuan itu, dapat dipahami bahwa hotel pada dasarnya merupakan satu bidang usaha yang bersih. Bahkan secara implisit pihak hotel berkewajiban untuk melarang hal atau tindakan yang akan melanggar kesusilaan serta tindak kejahatan secara umum. Namun karena kecenderungan nafsu hedonistis, ketetapan yang sedemikian baik ini kemudian diabaikan, beralih pada praktek yang bertolak belakang dengan ketentuan pemerintah itu, dan dari sisi agama menjadi bernilai maksiat.

Kaidah Syari’ah
Memang diakui, sampai sejauh ini, standar hotel Syari’ah yang baku belum ada, dan belum pula dibuat oleh lembaga-lembaga keislaman yang terdapat di negeri ini, seperti MUI, Departemen Agama, maupun oleh Ormas-ormas Islam, dll. Namun sesungguhnya bukan hal yang sulit pula untuk membuat ketentuan usaha perhotelan yang sesuai dengan kaidah Syari’ah. Karena pada dasarnya, usaha perhotelan merupakan satu dari sekian banyak usaha yang mungkin dilakukan manusia, dan dalam kaidah Syari’ah, hal itu tetap diperbolehkan, selama tidak ada dalil (nash) yang melarangnya secara tegas. Sesuai dengan kaidah yang menyatakan: “Hukum asal dalam muamalah adalah boleh, selama tidak ada dalil yan mengharamkannya.”

Meskipun demikian terdapat rambu-rambu Syari’ah yang bersifat umum dalam menjalankan mu’amalah, usaha ekonomi, termasuk usaha perhotelan.  yakni:
a.Tidak memproduksi, memperdagangkan, menyediakan, atau menyewakan produk atau jasa yang secara keseluruhan maupun sebagiannya dilarang dalam ketentuan Syari’ah. Seperti dalam hal makanan, mengandung unsur babi; minuman khamar,  perjudian, perzinaan, dll., yang semacam itu.
b.Transaksi dilakukan berdasarkan jasa atau produk yang nyata, benar-benar ada. Tidak bersifat meragukan.
c.Tidak mengandung unsur kezhaliman, kemudharatan, kemungkaran, kemaksiatan maupun kesesatan yang terlarang dalam kaidah Syari’ah; baik secara langsung maupun tidak langsung.
d.Tidak ada pula unsur penipuan, kecurangan, kebohongan, ketidak-jelasan (gharar), resiko yang berlebihan dan membahayakan,
e.Ada komitmen menyeluruh dan konsekuen dalam menjalankan perjanjian yang disepakati antar pihak-pihak terkait.

PT. Sofyan Hotels Tbk., merupakan Lembaga Bisnis Syari’ah pertama yang mendapat Sertifikat Bisnis Syari’ah dari Dewan Syari’ah Nasional MUI No. 001/07/B/DSN/MUI/2003, tertanggal 26 Juli 2003/26 Jumadil Awal 1424H., yang dalam kegiatan operasionalnya terikat dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah Islam

PT. Sofyan Hotels Tbk dirintis oleh Drs. Sofyan Ponda pada awal dekade 1970-an, bermula dengan 60 kamar di Hotel Menteng I Jl. Gondangdia; dan 80 kamar di Hotel Menteng II di Jl. Cikini. Pihak manajemen berhasil mengembangkan perusahaan ini menjadi total 163 kamar pada 1989, dan melakukan Go Publik dengan hasil penjualan yang sangat menggembirakan, dimana penjualan saham mencapai oversubscribed 300%. Dana yang diperoleh dari hasil go public ini dipergunakan untuk membeli tanah dan bangunan di Jl. Cut Mutiah daerah Menteng yang kemudian dibangun menjadi Hotel Sofyan Betawi dengan kapasitas 90 kamar.

Pada mulanya pengelolaan ketiga hotel itu dilakukan secara konvensional, dengan menyediakan berbagai fasilitas Laundry, Diskotik, Health Center, Santai Musik Club, Fitness Center dan Restoran dengan berbagai menu makanan maupun minuman Indonesia, China, Eropa dan Amerika. Usm.

http://www.halalguide.info/content/view/380/

Satu Tanggapan to “Hotel dengan Kaidah Syari’ah”

  1. spirulina health benefits Says:

    Great blog here! Alsoo your site loads up fast! What web host arre you using?
    Cann I get your avfiliate link tto your host? I wish my website loaded up
    as fast as yours lol


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: