Kata “Blusukan”


blusukanBlusukan. Siapa sih yang ngga tau fenomena blusukan? Istilah blusukan yang awalnya hanya kata-kata biasa saja itu, telah menjadi kata-kata yang luar biasa, buktinya..ketik saja tulisan blusukan di google, maka anda akan temukan sekitar 2,190,000 results (0.21 seconds) mengenai tulisan tentang blusukan. Wiiiih banyak banget kan?
Yup, blusukan sekarang identik dengan gaya kepemimpinan populer saat ini. Uniknya, jika anda mencari kosakata blusukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, anda tidak akan menemukannya. Lho??? haha, ternyata blusukan itu bahasa daerah Jawa, tetapi di Kamus Bahasa Jawa Online pun kata blusukan tidak ada, yang ada hanya kata blesek yang artinya “membenamkan diri dalam tumpukan” atau “menyesatkan diri untuk mengetahui sesuatu”, atau ” sengaja tersesat”, ya..sengaja tersesat di daerah-daerah untuk bertemu langsung dengan rakyat dan mendengarkan keluh kesah mereka.
Gaya blusukan ini memang lagi trend. Gaya kepemimpinan ini memang telah menimbulkan kekaguman luar biasa pada rakyat, karena gaya blusukan ini telah menghilangkan kesenjangan sosial antara pejabat dengan rakyat menengah kebawah. Rakyat bisa mengeluarkan aspirasinya secara langsung, mengeluarkan keluh kesahnya secara langsung tanpa harus melalui birokrasi yang berbelit-belit untuk menemui pemimpinnya.  Gaya blusukan ini setidaknya memang telah menimbulkan simpati banyak kalangan, mengingat sekarang, jarang sekali ada pemimpin yang mau blusukan demi mendengar aspirasi rakyat….Tapi, tunggu..jarang? apa anda yakin jarang pemimpin yang mau blusukan? hmmmm…
Kita memang tidak tahu, tapi mungkin di Indonesia, banyak pemimpin yang blusukan, hanya saja tidak terliput media.
Blusukan bukanlah segalanya. Tetapi segalanya berawal dari blusukan. Ya, jika seorang pemimpin hanya melakukan blusukan saja, hanya mendengar aspirasi saja, tanpa melakukan proses untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyat, maka tiada gunalah blusukan itu. Tetapi jadikan blusukan sebagai sebuah langkah kecil yang mengawali sebuah proses untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Jadikan blusukan sebagai sebuah cara untuk mengetahui permasalahan dari yang terkecil sampai yang terbesar yang ada di masyarakat, sehingga dengan mengetahui semua itu, kita bisa mengatur strategi yang tepat guna dalam penyelesaian permasalahan di Indonesia.
Bicara tentang blusukan, sebenarnya hal ini bukanlah hal yang baru.
Tahukah anda? Pada tahun 634 M, sudah ada sesosok pemimpin yang melakukan gaya kepemimpinan ini? bedanya…beliau blusukan tanpa ditemani pengawal, tanpa ditemani media atau peliput berita, tanpa diketahui pejabat lain, bahkan tanpa diketahui rakyatnya sendiri? Beliau blusukan dengan cara menyamar menjadi masyarakat biasa untuk mengetahui apa yang terjadi pada masyarakatnya saat itu.
Pada suatu malam, beliau mengunjungi suatu daerah tanpa diketahui siapapun…ketika sampai di sebuah pemukiman, beliau mendengar tangisan seorang bayi, begitu kencang. Beliau segera mendekati suara tangisan itu, beliau segera mendekati sang Ibu yang sedang menggendong anaknya, di depan sebuah periuk yang seakan-akan sedang memasak. Beliau bertanya pada sang ibu, “Apa yang sedang ibu masak?”
sang Ibu menjawab, ” Aku tidak memasak, di dalam periuk ini hanya seonggok batu, untuk mengelabui anakku,supaya anakku berhenti menangis karena dia kelaparan”. Beliau bertanya pada sang ibu, “Apa ibu tidak memiliki makanan? apa ibu sama sekali tidak memiliki makanan???”..sang ibu menjawab ” Tidak sama sekali, persediaan gandum telah habis.” Beliau kembali bertanya, “Bagaimana pendapat ibu tentang Khalifah yang memimpin saat ini?”…sang ibu menjawab ” Khalifah itu sungguh Dzalim!, dia telah membiarkan kami kelaparan!”..Beliau tercengang mendengar jawaban sang Ibu, dengan merasa bersalah beliau yang merupakan sang Khalifah itu segera pergi kepada Abdurrahman Bin Auf, Kepala Baitul Mal saat itu, dan segera meminta dua karung gandum.
Abdurrahman Bin Auf yang merasa heran melihat wajah sang Khalifah begitu gundah bertanya. “Ada apa yaa Khalifah? kenapa dengan anda?”..
Sang Khalifah menjawab, “Aku telah dzalim pada seorang Ibu dan anak, aku telah membiarkan mereka kelaparan..!” Kemudian sang Khalifah segera membawa dua karung gandum itu dan beliau pikul sendirian untuk dibawa pada Ibu dan anak yang kelaparan itu.
“Ibu, inilah sumbangan dari Khalifah yang dzalim itu” Ucapa sang Khalifah, si Ibu yang terheran-heran melihat seorang asing membawakan dua karung gandum itu bertanya. “Ini bantuan dari khalifah? Lalu dimana khalifah itu? kau pembantunya??”..
“Akulah khalifah yang dzalim itu..bu..” Ucapnya. Ibu itu kaget, “Apa? kau sang khalifah itu? kau adalah Umar Bin Khattab????”
“Ya, akulah Umar Bin Khattab itu, maafkan atas kedzaliman itu..ibu”..Ucap sang khalifah itu.
Subhanallah, Seorang khalifah Umar bin Khattab, telah melakukan blusukan yang luar biasa. setelah beliau mengetahui permasalahannya, beliau segera mencari penyelesaiannya, rela memanggul karung sendiri, rela pergi malam-malam sendirian. rela mendengar aspirasi rakyat tanpa ditemani seiapapun, pengawal, pejabat lain, peliput berita..bahkan..beliau menyamar sehingga rakyat tidak tahu bahwa itu adalah sang Khalifah, pemimpin mereka.
Blusukan, sudah dilakukan sejak dulu, pemimpin yang blusukan sembari melakukan penyelesaian adalah idaman bagi rakyat. Pemimpin yang blusukan akan memberikan banyak manfaat bagi rakyat. Ya, blusukan yang dilakukan demi rakyat, dan diniatkan karena mencari ridha Allah SWT semata. Bukan untuk mencari popularitas.
Ditulis dalam Suplemen, Wawasan. Tag: . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Kata “Blusukan””

  1. annakysa Says:

    Syukron sudah dimuat di blog Mentoring Agama Islam 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: