Partisipasi Politik Pemula


Bismillahirrahmaanirrahim.

images

Tahun 2013, tahun politik, karena di berbagai daerah sedang dan akan dilaksanakan berbagai pemilu untuk mencari pemimpin baru. Nah, termasuk kita-kita nih yang statusnya orang Jawa Barat, pada tanggal 24 Februari nanti kita akan menggunakan hak pilih kita untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur yang nantinya akan memimpin Jawa Barat 5 tahun kedepan. Sudah dapat pilihan yang mantap di hati? Segera temukan ya, karena kita sebagai warga Indonesia yang sudah berusia 17 tahun keatas wajib menggunakan hak pilih kita dalam pemilu nanti. Jangan sampai golput, karena itu akan membuat pemimpin yang tidak kita harapkan berpotensi untuk menang.

Menggunakan hak pilih adalah sebuah bentuk partisipasi politik. Apa sih definisi umum dari partisipasi politik?

Partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, mengadakan hubungan (contacting) atau lobbying dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dengan direct actionnya, dan sebagainya. (Miriam Budiarjo, 2009: 367)

Jika kita menggunakan hak pilih kita dalam pemilu nanti, artinya kita secara tidak langsung telah melaksanakan apa yang disebut dengan partisipasi politik. Jika kita golput, itu berarti kita tidak berpartisipasi dalam politik.

Kenapa sih harus berpartisipasi? Kenapa sih harus memilih? Memangnya jika saya memilih dia, apa dia akan menjadi pemimpin yang baik? apa dia mampu memajukan Jawa Barat? apa dia mampu menyejahterakan masyarakat? apa dia mampu menghilangkan kesenjangan sosial yang ada di Jawa Barat?

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti muncul di benak kita. Memang benar kondisi Indonesia yang sudah carut marut ini membuat kita menjadi apatis dalam pemilu, karena toh kita memilih dia pun, belum tentu dia akan menjadikan daerah kita lebih baik dari sebelumnya. Tapi, ketika kondisi Indonesia yang sudah carut marut ini, kita tidak berpartisipasi dalam pemilu, akankah itu akan menjadikan Indonesia lebih baik? tentu saja tidak. Menurut saya, jika kita tidak berpartisipasi justru itu akan menambah kecarutmarutan itu.

Kita ingin Indonesia lebih baik kan? kita ingin Jawa Barat lebih maju kan? kenapa kita diam saja dan tidak melakukan apa-apa? jika ingin daerah kita maju, lakukan sebuah kontribusi walau hanya dengan memilih. Kita pasti bisa menentukan pilihan, siapa yang lebih baik diantara calon-calon yang ada.  Bagaimana jika kita belum mengenal calon-calon itu? Kenali! Bukankah kita bisa bertanya pada orang yang ahli dalam hal ini? Bukankah kita bisa cari riwayat kehidupan para calon di Internet? dah tentunya, carilah informasi yang terpercaya, supaya tidak salah pilih.

Masih tetap ingin golput? Kalau begitu jika ingin golput, maka sebaiknya jangan menuntut jika nanti pemimpin yang terpilih adalah yang tidak baik. apa hak mu menuntut? memilih saja tidak?

Jika kita menggunakan hak pilih, kita bisa menuntut pemimpin yang terpilih untuk melaksanakan janjinya, kita bisa menuntut pemimpin yang tidak baik dalam melaksanakan program untuk melaksanakan program sebaik-baiknya. Karena kita menggunakan hak pilih, sehingga kita juga berhak untuk menagih janji mereka.

Partisipasi politik bisa dilihat dalam piramida,  piramida partisipasi politik ada dua, yaitu :

po

1). Piramida partisipasi I, oleh Milbrath dan Goel, masyarakat terbagi dalam tiga kategori, yaitu :

– Pemain (Gladiators) : 5-7% populasi termasuk gladiators, yaitu orang yang sangat aktif dalam dunia politik.

– Penonton (Spectators) : 60% aktif secara minimal, termasuk memakai hak pilihnya.

– Apatis (Aphatetics) : 33% populasi termasuk aphatetics, yaitu orang yang tidak aktif sama sekali, termasuk tidak memakai hak pilihnya.

 li tik

2). Piramida partisipasi II, oleh David F Roth dan Frank L. Wilson, masyarakat terbagi dalam empat kategori, yaitu :

– Aktivis (Activist) : The Devient (termasuk di dalamnya pembunuh dengan maksud politik, pembajak, dan teroris); pejabat public atau calon pejabat public; Fungsionaris partai politik pimpinan kelompok kepentingan.

– Partisipan (Participant) : orang yang bekerja untuk kampanye; anggota partai secara aktif; Partisipan dalam kelompok kepentingan dan tindakan-tindakan yang bersifat politis; Orang yang terlibat dalam komunitas proyek

– Penonton (Onlookers) : Orang yang menghadiri reli-reli politik; Anggota dalam kelompok kepentingan; Pe-lobby; Pemilih; Orang yang terlibat dalam diskusipolitik; Pemerhati dalam pembangunan politik.

– Apolitis (Apoliticals)

[Miriam Budiarjo, 2009: 372-373]

Jika kita belum siap menjadi kader partai, belum siap menjadi pemain dalam politik, maka gunakanlah hak pilih kita, karena itu merupakan sesuatu yang sangat mudah dilakukan tetapi nantinya akan berpengaruh bagi bangsa. Untuk lebih jelasnya baca Training Motivasi Sosialisasi Pemilu bahwa menggunakan hak pilih itu memiliki pengaruh yang besar bagi perubahan bangsa.

So, tunggu apa lagi? Gunakan hak pilihmu, mari berpartisipasi dalam politik, hal kecil yang kita lakukan, berpengaruh besar demi kemajuan bangsa.

Sumber: http://annakysa.wordpress.com/2013/02/11/partisipasi-politik/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: